Jangan Sembarangan Konsumsi Suplemen

0
29
ILUSTRASI mengonsumsi suplemen. (foto: hallosehat.com)

HARIANHALMAHERA.COM– DI tengah meningkatnya aktivitas manusia saat ini, suplemen menjadi kebutuhan ‘alternatif’ untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Hanya saja, masih banyak yang tidak memahami sehingga tak jarang sembarang memilih suplemen.

Melansir CNNIndonesia.com, data yang tercatat American Ostheopathy Association menyebut, hampir 86 persen orang Amerika Serikat mengonsumsi beragam jenis vitamin. Konsumsi vitamin dilakukan dengan harapan akan daya tahan tubuh yang meningkat.

Namun, faktanya kurang dari seperempat masyarakat AS mengalami penurunan nutrisi. Mengutip Daily Meal, analisis yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine menyebut bahwa kebanyakan vitamin tak seefektif yang dipikirkan banyak orang.

Peneliti menelusuri 277 penelitian ilmiah dan 16 perbedaan tipe suplemen. Hasilnya, hampir setiap suplemen yang diuji secara signifikan tidak berkaitan dengan kesehatan. Berdasarkan studi, beberapa suplemen seperti kalsium dan vitamin D justru bisa meningkatkan risiko stroke.

“Obat mujarab yang dicari orang dalam suplemen makanan tidak ada di sana [vitamin],” ujar salah seorang penulis studi, Erin D Michos, dalam sebuah pernyataan.

Menurutnya, seseorang harus fokus mendapatkan nutrisi dari intervensi diet sehat, dibandingkan melalui konsumsi suplemen. “Jika sudah mendapatkan nutrisi dari konsumsi sehari-hari, tak perlu lagi mengonsumsi suplemen,” ujar Michos.

Kendati demikian, beberapa suplemen diketahui memberikan dampak positifnya untuk tubuh, meski tak signifikan. Asam folat dikaitkan dengan penurunan risiko stroke sebesar 20 persen. Sementara minyak ikan ditemukan berdampak positif pada kesehatan jantung.

Suplemen minyak ikan dikaitkan dengan penurunan risiko serangan jantung sebesar 8 persen dan 7 persen penurunan kemungkinan menderita penyakit jantung. Selain menganalisis efektivitas suplemen, peneliti juga meninjau perbedaan sejumlah program diet sehat. Termasuk di antaranya diet lemak dan garam.

Mereka menemukan hanya sedikit jenis diet yang dikaitkan dengan angka harapan hidup yang panjang. Diet mediterania bahkan ditemukan tak memiliki efek signifikan. Satu-satunya intervensi diet yang tampak signifikan adalah pengurangan garam. Asupan garam yang berkurang mampu meningkatkan kesehatan jantung.(cnn/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here