Kita dan Pentingnya Ruang Ekspresi Rakyat

0
23
Sekjen PKP Berdikari Osmar Tanjung

Oleh: Osmar Tanjung
Sekjen PKP Berdikari

 

SECARA umum ada dua kategori identitias kita. Yang pertama ialah identitas yang berurusan langsung dengan diri kita, bentuk fi sik kita, karakter kita. Contohnya, saya ramah-tamah, saya gemuk, saya tidak mudah dibujuk. Yang kedua ialah identitas sosial–identitas yang kita miliki bersama orang lain–yaitu siapa diri kita, bukan siapa diri saya. Contohnya, saya muslim, saya WNI, saya pendukung Liverpool. Dalam kategori identitas sosial ini, kita dengan mudah dapat merasakan kebersamaan dan solidaritas bersama orang lain yang mungkin kita tidak pernah dan takkan pernah temui.

Identitas kita tidak statis, tergantung juga konteks di mana kita berada. Seorang muslim asli Malang bisa merasa solidaritas sesama umat Islam, tapi dia juga bisa merasakan kebersamaan sebagai warga negara Indonesia dengan WNI yang beragama dan suku lain. Contohnya Hendro, seorang mahasiswa dari Malang yang ikut program S-2 di Inggris. Dia salat di masjid yang memiliki umat yang sangat ragam, ada mahasiswa dari Bangladesh, ada sopir taksi Inggris keturunan Pakistan, ada mualaf dari Prancis, ada pengungsi dari Somalia. Si Hendro memiliki rasa solidaritas yang tinggi dengan sesama umat ini. Alangkah nikmat rasa kebersamaan salat berjemaah dengan warga negara dari berbagai pelosok dunia yang lain.

Namun, ada saatnya Hendro juga merasa kangen dengan kampung halamannya. Kepingin makan bakso, capek berbahasa Inggris, kepengin membahas perkembangan Tanah Air-nya. Apalagi, menurut Hendro, masakan Bangladesh seperti makan jamu, masakan Somalia tidak ada rasa pedas. Dalam keadaan ini, rasa kebersamaan Hendro dan solidaritas ketika dia kumpul dengan mahasiswa Indonesia lain meningkat, apa pun agama atau sukunya.

Dalam bahasa ilmu sosial, identitas ialah sesuatu yang ‘performatif’, yaitu sesuatu yang kita praktikkan, yang kita tunjukkan dan terkadang yang kita merasa terpaksa sembunyikan.

Memang, bergandanya identitas kita hampir tidak terbatas, dengan ribuan kemungkinan identitas sosial yang bisa kita miliki. Selain bergandanya identitas sosial kita, tidak kalah penting ialah keragaman identitas sosial kita. Menurut penelitian beberapa pakar psikologi, semakin berganda dan beragam identitas sosial kita, semakin tinggi tingkat kreativitas, semakin mampu berinovasi, dan semakin fasih dan orisinal pemikiran kita (Steffens et al 2015).

Di samping itu, keragaman identitas sosial kita memiliki hubungan erat dengan sikap kita terhadap pentingnya toleransi dan kebinekaan. Semakin ragam identitas sosial kita, semakin mungkin kita menghargai keterbukaan, toleransi, dan inklusivitas- dan sebaliknya (Roccas dan Brewer 2002).

Pentingnya ‘ketersediaan ruang ekspresi Rakyat’ bagi kebinnekaan ialah dalam rangka mempertahankan identitas sosial kita. Identitas sosial kita ialah sesuatu yang bersifat dinamis, bukanlah sesuatu yang statis seumur hidup kita. Salah satu variabel atau konteks yang menentukan identitas kita: mana yang paling menonjol dan paling kita tunjukkan atau praktikkan, kapan identitas baru dibentuk atau kapan identitas lama ditinggalkan merupakan perjalanan waktu diri kita.

Contohnya dari sisi waktu, tahun lalu si Hendro masih mahasiswa, tapi tahun ini dia sudah kerja sebagai pegawai negeri. Bulan lalu, si Hendro masih lajang, tetapi bulan ini dia sudah beristri. Dalam agama pun, identitas kita tetap memiliki dinamika. Meskipun Hendro tetap Islam apa pun konteksnya, identitas di dalam agama tetap bisa bersifat dinamis: Hendro jadi hafiz, Hendro jadi ustaz, Hendro jadi haji.

Salah satu variabel atau konteks lain ialah ruangan. Ruangan dan aksi yang kita dapat mengekspresikan identitas sosial kita. Waktu yang berlalu bukanlah sesuatu yang bisa kita atur, sebaliknya dengan tersediaannya ruangan-ruangan publik, negara memiliki peran penting dalam ketersediaan ruangan publik untuk kegiatan sosial bagi penduduknya, terutama negara seperti Indonesia yang UU berkaitan dengan tanah dan hutan dikaitkan erat dengan manfaat sosial dan kepentingan masyarakat.

Ruang Publik

Tanggung jawab negara termasuk penyediaan ruangan publik, baik untuk sesama identitas, seperti ruangan ibadah dan sebagai ruangan publik terbuka disediakan untuk siapa pun dan apa pun identitasnya. Ini seperti car free day (CFD) di Jakarta atau Kebun Raya yang terletak di berbagai kota di Indonesia.

Car free day merupakan kesempatan bagi masyarakat siapa pun dia untuk bergabung dengan sesama WNI dan juga warga negara yang lain. Orang ikut CFD bisa karena menikmati olahraga pagi atau karena ikut kegiatan hari tanpa rokok karena suka dengar musik atau ada pertunjukkan budaya yang menarik baginya atau karena menjadi anggota klub sepeda.

Pokoknya ketersediaan CFD memberikan kesempatan pada orang, siapa pun dia, mau kelas atas, mau kelas bawah, mau beda agama, etnik dan kewarganegaraan apa pun, mau pencinta lingkungan hidup atau kebudayaan, mau serius olahraga atau hanya mau cari makan, dapat berekspresi dan mencari kebahagiaan untuk dirinya.

Ketersediaan ruang ekspresi publik dari sisi identitas sosial kita ialah penting. Pertama, sebagai ruang untuk kita bisa mengekspresikan berbagai sisi identitas sosial kita. Kedua, sebagai ruang yang mendorong rasa kebersamaan dengan masyarakat lain, apa pun identitasnya.

Tantangan sekarang ini– dan tidak hanya di Indonesia–ialah semakin berkurangnya ruang publik yang terbuka untuk umum, terutama karena pesatnya urbanisasi dan swastanisasi. Malah kebanyakan ruangan publik yang disediakan dimiliki oleh swasta yang mau tak mau menciptakan identitas kita sebagai konsumer.

Ruang publik semakin sempit. Akibatnya, kesempatan untuk mengekspresikan identitas sebagai sesama WNI, apa pun etnik, agama, lapis sosialnya, semakin menurun, seturut dengan menurunnya pemahaman bersama, pemahaman rasa solidaritas dan kebinekaan. Orang akan dengan mudah melupakan rasa kebersamaan dengan kaum atau kelompok yang lain.

Situasi ini membuat semakin mudah bagi politisi dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk ‘manipulasi dan mempermainkan’ sentimen-sentimen yang akan memecahkan rasa solidaritas dan kebinekaan tersebut.

Sebagai manusia, kita tidak hanya punya identitas ganda dan beragam identitas, sebagai makhluk sosial kita juga butuh orang lain, baik secara fisik maupun secara mental.

Kita perlu orang lain untuk membuat kehidupan kita lebih sehat dan dinamis, memahami kaya-miskin, memahami toleran-intoleran, memahami lingkungan kerja kita sehat-tidak sehat, dan yang terpokok memahami proses dan dapat mendorong proses hidup bersama yang dibangun atas asas gotong royong dan solidaritas.

Jelas kita perlu membuka dan mendorong ruang dan aktivitas untuk membawa kita hidup di ruang yang sama yang kita ciptakan untuk kenyamanan bersama apa pun latar belakang sosialnya.

Bangsa ini perlu memperbanyak ruang-ruang bersama untuk komunitas maupun orang-perorang, untuk mengekspresikan dirinya dari latar belakang yang beragam yang dilandaskan toleransi, solidaritas, kebanggaan sebagai bangsa yang bineka dan gotong royong.(*)

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/257880-kita-dan-pentingnya-ruang-ekspresi-rakyat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here