AdvertorialPemprov

Gubernur Minta Sibualamo jadi Pemersatu

×

Gubernur Minta Sibualamo jadi Pemersatu

Sebarkan artikel ini
Gubernur Abdul Ghani Kasuba (AGK) Melantikan pengurus Sibualamo Malut di gedung Duhafa Center Jumat (15/11)

HARIANHALMAHERA.COM–Sibualamo akhirnya benar-benar menjadi sebuah organisasi paguyuban di Malut. Jumat pekan kemarin, komunitas yang mewadahi warga dari Togale (Tobelo-Galela) itu secara resmi dikukuhkan kepengurusannya oleh Gubernur Abdul Ghani Kasuba (AGK) yang bertempat di Gedung Dhuafa Center.

Pelantikan pengurus Sibualamo yang dinakhodai Saifuddin Djuba itu mengangkat tema “Sibualamo Dalam Perspektif Bhinneka Tunggal Ika”.

AGK yang selaku Ketua Dewan Penasehat Sibualamo mengapresiasi hadirnya paguyuban ini sebagai media silaturahmi dan sekaligus mitra strategis Pemprov. “Ini akan kami pelihara, tidak akan pindah kemana-mana dan mudah-mudahan akan terus ditambah. Kami merasa terbantu oleh Pemerintah Daerah dan menjadi mitra strategis,” kata AGK.

Menurutnya, Moloku Kieraha kaya dengan beragam suku, etnik, agama, dan budaya, oleh karena itu dia mengajak kepada semua pihak agar senantiasa selalu bersyukur dan bangga dengan kekayaan tersebut. “Karena pluralisme tersebut menjadikan kita indah, dan kuat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,”ujarnya

Dia berharap, pengurus Sibualamo yang baru dikukuhkan dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan baik serta  amanah dan dipercaya. “Bersama Pemerintah, mari bergandeng tangan untuk berkontribusi positif dalam mengatasi berbagai persoalan sosial yang timbul, yang dapat merugikan dan menghambat kemajuan daerah ini,”katanya.

Sementara Saifuddin mengatakan dalam peradaban kehidupan orang Galela, dimana Bangsaha sebagai rumah peradaban orang Galela dan Halu sebagai rumah peradaban orang Tobelo, Kedua rumah adat ini kemudian diterima sebagai Dodolom Matahu atau rumah pertemuan yang dalam dialeg Galela menyebutnya “Sibualamo” sedangkan Tobelo menyebut “Hibualamo”. “Kedua-duanya bermakna Rumah Bersama,” ucapnya.

Orang Togale kata dia selalu bercermin pada filosofi “Tona Malangi” yaitu batas tanah yang menjadi dasar atau alasan peradaban Tobelo dan Galela dimana adat dan tradisi telah menjadi satu dalam sebutan Togale.

“Orang Tobelo Galela juga terikat dengan bingkai sejarah, tidak bisa dipisahkan sebagai pewaris kerajaan “Moro”. Dimana Tobelo dan Galela disebut Morodina sedangkan generasi yang menyebar ke pulau-pulau seberang disebut Morodadi. Jejak-jejak para Canga lah disitu Morodai,” sebut kepala BPBJ Setda Provinsi Malut ini.

Ikut hadir dalam acara pengukuhan ini, Wakil Komandan Satuan Brimod  Polda Malut AKBP Jafar Sadik Zainal, Bupati Halsel Bahrain Kasuba, Anggota DPRD Kota Ternate Marlisa A Marsaoly, para tokoh dan ratusan masyarakat Togale.(pn/tr3/pur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *