Maluku Utara

Peserta Kartu Pra Kerja Masih Minim

×

Peserta Kartu Pra Kerja Masih Minim

Sebarkan artikel ini
Denni Puspa Purbasari (Foto : net)

HARIANHALMAHERA.COM–Program kartu pra kerja yang disediakan Pemerintah ternyata belum dimanfaatkan betul oleh para pencari kerja, maupun temaga kerja terdampak Covid-19 di Malut.

Buktinya, sejak pendaftarannya gelombang pertama mulai dibuka pada 17 April 2020 hingga memasuki gelombang ke 10, jumlah para pencari kerja yang mendaftar penerima kartu pra kerja di Malut masih sedikit.

Data Kementrian Tenaga Kerja (Kemenaker) menyebutkan, dari total 5.597.179 penerima kartu pra kerja di Indonesia, 13.500 diantaranya berasal dari Provinsi Malut

Direktur eksekutif manajemen pelaksana kartu Pra kerja, Denni Puspa Purbasari  di Hotel Muara mengakui Malut termasuk dalam empat besar provinsi dengan peserta penerima kartu Prakerja paling sedikit bersama Provinsi Papua Barat, Papua dan Kaltimantan Utara (Kaltra).

“Padahal pada setiap gelombangnya tersedia kuota untuk 800 ribu,” katanya.

Adapun 30 provinsi lain berhasil mencatatkan lebih dari 50 ribu kepesertaan Kartu Prakerja, dengan jumlah penerima terbanyak ada di Jawa Barat (817,6 ribu), Jawa Timur (667,9 ribu) dan DKI Jakarta (584,4 ribu).

“Kami berharap pada 2021 mendatang, Kartu Prakerja bisa menarik lebih banyak peminat dari 8 kabupaten dan 2 kota yang ada di provinsi Maluku Utara. Potensi angkatan kerja di provinsi kepulauan ini sangat besar untuk menggerakkan ekonomi daerah,”katanya.

Denni mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan penerima kartu pra kerja di Malut sangat terkecil, yakni minimnya sosialisasi dan sulitnya akses internet. “Kami yakin, tahun depan tingkat kepesertaan akan lebih tinggi di beberapa daerah yang tahun ini angkanya masih di bawah rata-rata nasional,” ungkapnya.

Penerima Kartu Prakerja di tahun pertama ini dapat dikatakan tepat sasaran. Pasalnya, data menunjukkan mayoritas peserta berusia muda, menganggur, hidup di sektor informal, serta memiliki pendapatan rendah.

“Karena itu, dana Rp 3.550.000 bagi setiap peserta, meliputi bantuan pelatihan dan insentif menjadi sangat berarti untuk hidup di masa pandemi seperti saat ini,”ujarnya.

Menjadi penerima Kartu Prakerja juga terbukti memberi dampak besar pada status kebekerjaan. Baik membantu mempertahankan status kebekerjaan maupun mengurangi laju pengangguran.

“Sebelas persen penerima Kartu Prakerja yang sebelumnya menganggur kemudian bekerja. Sementara 47 persen penerima Kartu Pekerja yang sudah bekerja tetap bekerja setelah mengikuti berbagai pelatihan di Program Kartu Prakerja,”tutupnya. (lfa/pur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *