Cuaca Ekstrim Picu Harga Bapok di Malut Meroket

0
107
Ilustrasi : Bahan Pokok (Foto : net)

HARIANHALMAHERA.COM–CUACA ekstrem yang mengakibatkan terganggunya aktivitas pelayaran di Maluku Utara (Malut) ikut memicu lonjakan harga bahan pokok (bapok) di pasar.

Sebagian besar bapok yang mengalami kenaikan harga ini umumnya yang diimpor dari luar daerah. Bahkan, tidak tanggung-tanggung lonjakan harga hampir mencapai dua kali lipat,

Telur Ayam misalnya, dari pantauan koran ini di pasar Higienis Bahari Berkesan Kota Ternate, saat ini dijual Rp 300 ribu/rak dari harga normal Rp.200 ribu/rak.

Lonjakan harga juga terjadi pada Cabe kriting. Harga salah satu bumbu dapur itu kini Rp 80 ribu per kilo. Naik Rp 60 ribu dari harga bulan lalu yang dijual Rp 20 ribu per kilo.

Begitu juga harga ikan fufu. Untuk ukuran kecil yang biasanya dijual Rp 30 ribu, kini naik menjadi Rp.50 ribu. Sedangkan ukuran besar dari harga sebelumnya Rp 50 ribu naik menjadi Rp 80 ribu per ekor. “Kenaikan harga ikan ini juga disebabkan kondisi cuaca yang kurang bersahabat,” terang sejumlah pedagang di pasar Bastiong, Sabtu akhir pekan kemarin.

Kenaikan sejumlah bapok ini turut disikapi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Ternate dengan mengelar rapat bersama di kantor Wali Kota Ternate, Jumat (16/4).

Asisten II Setda Kota Ternate Thamrin Alwi mengatakan, bapok yang mengalami kenaikan cukup signifikan yakni cabe, telur dan tomat. Tiga jenis bahan pokok ini memang dipasok dari luar Malut, yakni Surabaya dan Manado.

Diakui, lonjakan harga ini terjadi akibat adanya kenaikan harga di pemasok ditambah kondisi laut saat ini yang tak memungkinkan sehingga kapasitas muatan kapal akan diturunkan.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat kapal barang sudah bisa masuk ke Ternate, maka hal-hal Bapok dipasar dan harganya sudah bisa di atasi,” ujarnya.

Guna mengatasi lonjakan harga khususnya cabai dan tomat, Pemkot akan membangun kordinasi dengan daerah-daerah penyangga di pulau Halmahera. Disebutkan, dalam sehari permintaan cabai mencapai 1,6 ton serta tomat per hari mencapai 2,6 ton.

“Kebutuhan seperti rica dan tomat ini yang nanti kita upayakan bisa di pasok dari daerah tetangga khususunya halmahera, guna mengantisipasi lonjakan harga,”ujarnya.

Komisi II DPRD Kota Ternate mengatakan, lonjakan harga ini kata dia tidak akan terjadi jika bisa diantisipasi sedini mungin oleh Pemkot melalui TPID. TPDI selama ini terkesan  hanya sebatas rapat formalitas dan sosialisasi jika ada kenaikan atau harga pangan di pasar.

Namun tidak ada langkah strategis yang pasti. “Disperindag yang menjadi harapan kita juga, namun penyampaian dari mereka (Disperindag) tidak bisa melakukan intervensi pasar. Karena pertama para distributor bahan pokok ini terutama pada rica, tomat, dan bawang,” ucap Anggota komisi II Sudarno Taher usai berkunjung ke kantor Disperindag Kamis (15/4).

Selain distributor, masalah cuaca juga mengakibatkan bawang, rica dan tomat ini harganya tidak stabil. Sehingga di bulan Ramadan mengalami keterbatasan stok dari lokal misalkan, pasokan dari Halmahera.

“Tenaga lokal kita saja sampai sekarang tidak punya lahan yang memadai untuk melakukan penanaman Barito. Bahkan informasi yang disampaikan Disperindag bahwa di bulan lalu itu distribusi barito yang langsung dari Manado terbatas, sehingga pasokannya dari Kota Makassar yang kita sayangkan,”tambahnya.

Dewan Kota (Dekot) pada prinsipnya menginginkan kenaikan harga yang terjadi di pasar tentunya tidak terlalu signifikan. Olehnya itu pihaknya juga bakal melayangkan surat ke TPID guna dimintai penjelasan.(tr4/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here