Bertahun-tahun, Korban Banjir Mede Diabaikan

0
129
ILUSTRASI rumah warga Desa Mede yang dilanda banjir beberapa waktu lalu dan mengakibatkan beberapa rumah hanyut.(foto: istimewa)

HARIANHALMAHERA.COM–Sudah bertahun-tahun, sekira Sembilan kepala keluarga di yang sebelumnya bermukim di dekat sungai Mede, Desa Popilo Utara, Kecamatan Tobelo Utara, dan sempat menjadi korban bencana banjir tahun 2017-2018 lalu, hingga kini belum mendapat penanganan serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halut.

Pasalnya, janji pemerintah akan melakukan ganti rugi sejumlah rumah warga yang sudah rusak diterjang banjir pada waktu itu. Nyatanya, sampai Mei 2021 tak kunjung terealisasi janji ganti rugi.

Keluhan terus datang dari warga korban banjir. Bahkan, sejumlah barak yang sudah dibangun oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) waktu itu, sebagian sudah dibongkar oleh warga korban banjir dan memilih kembali mendiami rumah mereka walaupun masih dalam keadaan rusak. Sebab masa kontrak tanah pembangunan barak tersebut sudah selesai.

Salah satu warga korban banjir, Elfis Wowa, mengatakan rumah keluarga mereka tidak ada yang tertinggal akibat disapu banjir pada bencana saat itu. Namun perhatian pemerintah tak kunjung datang hingga keluarga mereka memilih membangun kediaman mereka yang baru lewat usaha sendiri di desa tetangga, Popilo Utara. “Sampai pada saat ini tidak ada realisasi soal ganti rugi,” jelas Elfis Wowa salah satu warga korban banjir, kepada wartawan.

Kata dia, berbagai bentuk koordinasi sudah dilakukan, baik melalui pihak Pemerintah Desa Popilo Utara, Kecamatan bahkan sampai pada tingkat Pemerintah Halut, tetapi tidak kunjung terealisasi janji yang ada. “Berharap di bawah kepemimpinan Pj Bupati dapat menindaklanjuti kembali keluhan kami,” harapnya.

Selain itu, dia juga berharap hal ini tidak di diamkan oleh lembaga DPRD Halut. Dia meminta agar lembaga legislatif juga ikut mengawasi terkait janji pemerintah yang ingin mengganti rugi.

Terpisah, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Tobelo Utara Nortje D Gardjalay menyampaikan, sejauh ini pihak kecamatan juga masih kebingungan dengan kondisi sembilan kepala keluarga korban bencana. “Iya torang (pemerintah kecamatan) juga so bingung hanya menunggu. Permohonan sudah dari zaman camat Taufik Biskali,” terang Nortje.(san/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here