Halut

Warga Mulai Alami Panic Buying Obat

×

Warga Mulai Alami Panic Buying Obat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Obat: colmedica.com

HARIANHALMAHERA.COM–Informasi mengejutkan disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes), Halut, dr Amanda Ray Ray. Katanya, stok obat di Kabupaten Halut mulai menipis.

Informasi sekaligus penegasan itu disampaikan dr Amanda saat rapat evaluasi bersama Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Halut terkait Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Masyarakat (PPKM) Mikro, di Posko Satgas Covid-19 Halut, di Gedung Hibualamo, Senin (26/7).

“Saat ini ketersediaan obat-obatan sudah berkurang, baik di Dinkes maupun apotek yang di Halut. Untuk itu kami berharap pemkab dapat mengatasi hal tersebut guna menghindari kelangkaan obat-obatan. Apalagi sekarang ini banyak masyarakat yang sakit, sehingga membutuhkan obat-obatan,” katanya.

Meski tidak rinci, namun obat-obatan yang dimaksudkan mantan Kepala Puskesmas Tobelo itu, berkaitan dengan gejala covid-19. Seperti obat demam, sakit kepala, batuk, dan flu. Ini belum termasuk sejumlah vitamin yang dibutuhkan bagi pasien yang memiliki gejala ringan.

Sebagaimana pantauan di lapangan, sejumlah apotek di Tobelo mengalami lonjakan pengunjung. Informasi diperoleh, banyak yang memburu obat-obat dengan gejala mirip covid. Informasi lain didapatkan, saat ini banyak masyaralat Halut yang mengeluhkan sakit. Namun, belum dipatikan apakah benar gejala covid atau dipengaruhi factor lain, seperti pola cuaca yang tidak menentu.

Salah satu obat yang paling banyak dicari adalah Paracetamol. Obat penurun demam ini mulai langka di apotek. Hartaty, warga Desa Jere, mengaku kecewa dirinya tidak mendapatkan paracetamol. “Sudah datang jauh-jauh, tapi tidak dapat (habis, red),” katanya.

Ditanya apakah kebutuhan obat itu untuk pasien covid? Hartaty mengatakan tidak. Dia mengaku, obat-obatan itu akan disimpan. “Saya beli obat banyak-banyak, jangan sampai di apotek habis. Ternyata memang habis,” ujarnya.

Tidak hanya Hartaty, tapi beberapa pengunjung apotek mengaku hal yang sama. Mereka ingin menyimpan obat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Perilaku itu, diketahui dikenal dengan istilah Panic Buying. Yakni, merupakan perilaku membeli kebutuhan dalam jumlah banyak karena takut akan suatu hal. Dalam hal ini panic buying obat-obatan. Hal ini dilakukan karena perasaan takut jika terpapar covid-19. Apalagi saat ini di Halut belum menunjukkan tren penurunan kasus, justru malah sebaliknya.

Dari laporan kasus harian covid-19 Dinkes Pemprov Malut, untuk Kabupaten Halut per Senin (26/7) bertambah 58 kasus baru. Jumlah kasus aktif mencapai 1.184 kasus. Sementara untuk kumulatif, Halut sudah mengoleksi 2.187 kasus, 977 pasien sembuh, dan 26 kasus pasien meninggal dunia.(cw/tr-05/fir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *