44 Persen Anak Bosan Belajar di Rumah

Asesmen Nasional Digelar setelah Siswa Masuk Sekolah

0
145
Ilustrasi: Banyak anak yang bosa di rumah dan ingin kembali ke sekolah. (Ist.)

HARIANHALMAHERA.COM–Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memastikan asesmen nasional (AN) tetap digelar di tengah pandemi Covid-19. Namun, hingga kini jadwal pelaksanaannya masih mengambang.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Balitbangbuk) Kemendikbudristek Anindito Aditomo menuturkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan daerah perihal pelaksanaan AN Sebab, tak dimungkiri kondisi masih pandemi. Kesehatan dan keselamatan siswa, guru, dan kepala sekolah menjadi yang utama. ’’Karena itu, jadwalnya menyesuaikan kondisi daerah. Kami dinamis,’’ ujarnya saat melakukan media visit virtual (5/8).

Menurut dia, jadwal sedang dimatangkan tim bersama dinas pendidikan di tiap-tiap daerah sambil mengamati perkembangan pandemi. Apabila daerah tersebut dinyatakan aman untuk pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, AN bisa dilaksanakan. ’’Kalau sudah PTM terbatas, tidak ada alasan tidak melaksanakan AN ya. Anak sudah di sekolah, guru sudah ke sekolah,’’ ungkap Nino, sapaan karibnya.

Meski diselenggarakan secara computer based, AN tidak bisa dilakukan online dari rumah. Sebab, tidak semua anak memiliki kemampuan untuk bisa melaksanakan secara online. Baik karena keterbatasan komputer maupun sinyal internet. Selain itu, data dikhawatirkan bias karena tidak dapat dipastikan siapa yang mengerjakan soal. ’’Kita ingin potret kondisi sesungguhnya. Bisa bias kalau online,’’ katanya.

Namun, dia menegaskan, soal yang diberikan nanti bukan mengenai penguasaan materi belajar. Atau, hafalan buku pelajaran. Melainkan lebih pada pengukuran literasi siswa secara keseluruhan, survei karakter, dan lainnya. Dia mengimbau orang tua tak perlu panik mendaftarkan anaknya untuk bimbingan belajar atau membeli buku persiapan AN.

Nino memahami jika masih ada kekhawatiran di lapangan. Baik yang dirasakan orang tua, siswa, maupun guru terhadap AN. Sebab, sudah puluhan tahun mindset ujian nasional (UN) yang sebelumnya ditanamkan untuk penilaian individu dilakukan. AN pun dikhawatirkan sama, bakal jadi profiling siswa hingga sekolah. ’’Padahal tidak. Tidak ada dampak sama sekali pada anakanak,’’ tegasnya.

Kepala Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemendikbudristek Asrijanty menambahkan bahwa siswa, guru, dan kepala sekolah tak perlu khawatir mengenai hasil AN. Hasil tak akan dipublikasikan dan digunakan untuk membandingkan antarsekolah. Data hanya akan diberikan kepada pihak sekolah dan pemda untuk perbaikan ke depan. ’’Dari sini tahu tampaknya aspek ini kurang, diperbaiki. Tidak untuk di-ranking atau dibandingkan,’’ tandasnya.

Sementara itu, LaporCovid-19 bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) merilis hasil survei terkait persepsi orang tua ketika anak melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Jumlah responden yang disurvei berjumlah 23.015 orang dengan 41,11 persen sekolah negeri dan 58,89 persen swasta.

Kolaborator Ilmuan LaporCovid-19 Dicky Pelupessy menyampaikan bahwa terdapat sekitar 44 persen anak sering merasakan bosan saat melaksanakan PJJ. Persentase untuk agak sering sebesar 20 persen, tidak sering 24 persen dan sangat tidak sering 12 persen.
“Menurut pandangan dan persepsi orang tua, jadi 37 persen itu menyatakan memang sering bosan gitu. Terus yang sangat sering itu sekitar 6 atau 7 persen ya,” terang dia dalam webinar Pemaparan Survei Pembukaan Sekolah di DKI Jakarta, Jumat (6/8).

Ia menyampaikan bahwa tidak ada perbedaan sifnifikan antara sekolah negeri dan swasta perihal tingkat kebosanan anak belajar di rumah. “Kalo dari sekolah swasta dan negeri sebetulnya sama. Bisa dikatakan tidak ada perbedaan antara yang di sekolah negeri dan swasta,” imbuhnya.

Lebih detil, tingkat kebosanan anak yang berada di sekolah negeri sebesar 48,41 persen. Sementara di sekolah swasta 49,47 persen. Untuk jenjangnya, anak PAUD yang bosan 54,88 persen, kemudian, SD 52,98 persen, SMP 48,14 persen dan SMA 44,15 persen.
“Jadi semakin mengecil kebosanan anak dengan belajar dari rumah itu ya dengan semakin bertambahnya tingkat pendidikan. Jadi yang SMA itu lebih kecil dibandingkan dengan PAUD,” jelasnya.

Ia mengatakan tingkat kebosanan juga dipengaruhi oleh anak yang semakin sering didampingi orang tua. Terlihat dari anak PAUD yang perlu diawasi oleh orang tua dan tingkat kebosanannya merupakan yang tertinggi.

“Jadi memang bisa dibayangkan, semakin kecil (umur) anak di rumah tangga, dia semakin dilihat, mudah bosan oleh orang tua,” tandasnya.(jpc/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here