HARIANHALMAHERA.COM– stigma dabur sumur benar-benar dipatahkan oleh dua guru perempuan di Kabupaten Halmahera Utara (Halut). Betapa tidak, ditengah kesibukan mengurus rumah tangga, ternyata hal itu bukan menjadi penghalang bagi perempuan untuk terus belajar dan meraih mimpi.
Namun, itu menjadi tantangan tersendiri dalam meraih keberhasilan bagi insan yang mau berjuang. Terbukti, dengan tekad yang kuat meskipun memiliki dua tanggung jawab, yakni sebagai ibu rumah tangga dan pengajar di madrasah, dua orang guru di negeri Hibualamo itu sebentar lagi menyandang gelar doctor pada kampus Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
Keduanya adalah DR. Chadijah, S. Pd.I, M.Pd, sosok perempuan tenaga pengajar alias pada guru MTs Negeri 1 Halut dan DR. Majida Faruk, S. Pd.I, M.Pd, guru MIN 1 Halut selangkah lagi bakal berhasil menyelesaikan program sarjana strata 3 (S3) alias doktor.
Dua srikandi tenaga pendidik itu, bakal mempertaruhkan kemampuan akademiknya di hadapan para Promotor, Ko Promotor dan penguji lewat orasi ilmiyah disertasinya masing-masing pada hari Senin 19 Januari 2026 nanti, yang mana akan berlangsung di Lantai II Ruang Pasca Sarjana Kampus UIN Alauddin Makassar.
Hal ini tentunya patut diacungi jempol, mengingat di usia yang sudah tidak muda lagi, tetapi semangat untuk meraih pendidikan hingga ke jenjang Doktoral sangat tinggi, apalagi jika dilihat dari lamanya masa menempuh pendidikan yang kurang lebih hampir empat Tahun.
Segala tantangan dan hambatan yang dihadapi kedua ibu rumah tangga ini, namun semangat mereka tidak perna surut dalam melewati proses akademik hinggaa mereka mencapai hasil akhir apa yang selama ini mereka perjuangkan.

Menurut kedua calon doctor bahwa menuntut ilmu adalah perintah Tuhan yang hukumnya wajib baik laki-laki maupun perempuan sejak dari buain hingga masuk ke liang lahat.
Apalagi lanjutnya, Tuhan telah merekomendasikan pada setiap wanita dalam hal ini setiap ibu adalah menjadi pelaku pendidik pertama dan utama dalam lembaga pendidikan rumah tangga, sehingga dengan demikian kualitas pendidik dalam hal ini ibu menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung suksesnya sebuah proses pendidikan.
“Disamping itu, wanita adalah tiang penopang keberhasilan kemajuan pembangunan suatu bangsa. Lebih dari itu peningkatan kualitas perempuan mempunyai nilai starategis untuk kemajuan suatu bangsa,”kedua calon doctor tersebut.
Adapun profil keduanya, yakni DR. Chadijah, S. Pd.I, M.Pd. perempuan kelahiran Bulukumba, 30 September 1968 ini, selangkah lagi sudah menyelesaikan program doktonya. Guru dua orang anak itu, kini berdomisili di Desa Soakonora Kecamatan Galela Selatan, dengan aktivitas kesehariannya sebagai pengajar di MTs Negeri 1 Halut.
Ia menempuh pendidikan di SD Inpres Gunung Sari pada tahun 1981, MTsN Makassar Tahun 1984, MAN Makassar tahun 1987, S1 UIM Makassar, tahun 2004, S2 IAIN Ternate tahun 2020 dan S3 UIN Makassar sedang dalam proses penyelesaian ujian hasil.
Selain sebagai pengajar beliau juga aktif di berbagai organisasi yakni sebagai Dewan Dakwah BKMT Halut, Dewan Pakar Muslimat NU, Penasehat FORHATI, Ketua IWSS Kab. Halut, Ketua Bidang SOSBUD DWP Kemenag Halut.

Sementara itu, DR. Majida Faruk, S. Pd.I, M.Pd, seorang pendidik yang lahir di Tidore, 06 Oktober 1969, ini tumbuh dan menempuh pendidikan dasar didaerah asalnya sebelum melanjutkan pendidikan menengah dan atas di Tidore.
Semangatnya dalam menuntut ilmu mendorong dirinya melanjutkan pendidikan tinggi di IAIN Ternate, di sana beliau menyelesaikan pendidikan S1 tahun 1995 dan S2 di tahun 2012. Karir Majida Faruk di dunia pendidikan dimulai sebagai guru di KIN Soakonora pada tahun 1997, seiring berjalan waktu dia dipercaya mengemban berbagai amanah strategis baik sebagai guru maupun sebagai kepala sekolah yakni kepala MIN Dokulamo, kepala MIN Soakonora, hingga kepala MIN 1 Halut.
Selama lebih dari dua dekade pengabdiannya, ia berperan aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah, membangun tata kelolah Lembaga serta membina peserta didik dan tenaga pendidik.
Selain mengabdi dalam dunia Pendidikan, beliau juga aktif dalam berbagai organisasi kemesyarakatan dan keagamaan. Keterlibatannya dimulai sejak menjadi ketua KOHATI Cabang Ternate tahun 1993 dan di tahun-tahun berikut ia dipercaya sebagai penasihat FORHATI Halut, Dewan Pakar KAHMI Halut, serta anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Halut. Berkat dedikasi, loyalitas dan pengabdiannya dia dianugerahi penghargaan satya Lencana Karya Satya 20 Tahun sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam dunia Pendidikan.
Tentunya dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan bagi mereka dalam menjalani peran sebagai pendidik, pemimpin dan anggota Masyarakat. Keberhasilan mereka dalam menyelesaikan program doctoral juga berkat dukungan dan doa dari keluarga. Semoga dua Perempuan hebat ini bisa menjadi contoh dan motivasi bagi ibu-ibu rumah tangga lainnya bahwa sukses itu bisa diraih dengan semangat dan kerja keras serta doa kepada Sang pencipta.(rif)













