HARIANHALMAHERA.COM– warga Desa Kira dan Duma, Kecamatan Galela Barat, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) akhirnya berdamai setelah sempat bentrokan beberapa waktu lalu. Jumat (10/4) pagi tadi kedua pihak pun kembali akur yang ditandai dengan deklarasi damai.
Kedua warga bersepakat ‘gencatan batu’ dan menyatakan damai permanen yang dituangkan dalam catatan deklarasi damai, itu setelah Pemkab Halut bersama TNI-Polri hingga tokoh lintas iman berhasil fasilitasi proses penyelesaian masalah.
Dalam proses deklarasi damai tersebut tampak dihadiri langsung Bupati Halut, Dr. Piet Hein Babua, didampingi Wakil Bupati Dr. Kasman Hi Ahmad, juga Kapolres Halut, AKBP. Erlichson Pasaribu serta unsur TNI, DPRD, pemerintah kecamatan, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga para pelajar dan warga dari kedua desa.
Nafiar, perwakilan pemuda Desa Kira, mengatakan bahwa deklarasi damai ini harus menjadi titik awal perubahan nyata, bukan sekadar seremoni. Sebab, peristiwa bentrokan antar dua Desa tersebut kerap terjadi. “Deklarasi ini jangan hanya sebatas seremonial, tetapi harus terus berlanjut. Kita harus tetap hidup berdampingan secara damai dan tidak mudah terhasut isu-isu provokasi,”katanya.
Ia pun mengapresiasi peran aparat keamanan serta Pemda Halut yang telah memfasilitasi pertemuan damai tersebut. Sebab, langkah itu membuat suasana kembali normal setelah sempat beberapa hari sebelumnya berlangsung tegang.
Sementara itu, perwakilan pemuda Desa Duma, Robin Balamau, menyampaikan insiden bentrokan tersebut sedianya menjadi pelajar bersama agar tidak ulangi lagi, bahkan refleksi keras terhadap konflik yang terjadi. “Generasi yang bentrok adalah generasi yang bobrok. Harapan terbesar kami adalah kedamaian,”tegasnya.
Robin juga meminta orang tua berperan dalam membina generasi muda, sebab di usai remaja kerap melakukan kenakalan. “Ini adalah masalah sosial yang perlu perhatian orang tua sebagai guru pertama di rumah, untuk mengontrol anak-anak muda,”pintanya.
Senada disampaikan Kapolres Halut, AKBP. Erlichson Pasaribu, bahwa konflik antar kampung di wilayah tersebut sudah berulang kali terjadi, yang mana pemicunya adalah salah paham kalangan remaja. “Selama kurang lebih 10 bulan saya bertugas, sudah empat kali terjadi tarkam di desa ini, yang sebagian besar dipicu salah paham di kalangan remaja, sehingga itu kita perlu bergandengan tangan dan tentunya peran orang tua sangat penting dalam mengontrol anak-anak. Kami juga siap mendukung kegiatan positif untuk mengembangkan kreativitas pemuda,”ungkapnya.
Semenatra Wabup Halut, Dr. Kasman Hi Ahmad, mengajak masyarakat untuk kembali mengingat nilai persatuan lintas agama yang telah lama hidup di bumi Hibualam, sebab nilai kemanusiaan harus menjadi landasan bersama “Islam dan Kristen adalah satu di wilayah ini. Sejak perjuangan, kebersamaan itu sudah terbangun. Kita sebagai generasi sekarang wajib menjaganya.Nilai tertinggi dalam peradaban adalah kemanusiaan, yaitu kasih sayang antar sesama,” katanya.
Bupati Halut, Dr. Piet Hein Babua, juga menyampaikan apresiasi terhadap sikap inisiatif generasi muda dalam mendorong perdamaian. “Saya bangga dengan generasi muda Kira dan Duma yang menggagas deklarasi damai ini. Jangan menjadi aktor penyebar isu yang tidak jelas. Bijaklah bermedsos agar tidak memprovokasi masyarakat lain,” tegasnya.(red)












