Atalanta vs Valencia: Produktif Lawan Rapuh

0
479
Duvan Zapata bomber terganas milik Atalanta. GETTY IMAGES

HARIANHALMAHERA.COM – Atalanta adalah kuda hitam yang paling ditunggu di babak 16 besar Liga Champions. Lolos ke fase knockout paling dramatis, La Dea –julukan Atalanta– berada di fase tertinggi dalam kiprah mereka di kompetisi Eropa selama 112 tahun berdiri.
Meski underdog, Atalanta bisa disejajarkan dengan klub-klub elite Eropa seperti Paris Saint-Germain (PSG), Manchester City, Borussia Dortmund, dan Liverpool yang sudah mencetak lebih dari 60 gol.
Nah, bagaimana di Liga Champions? Momentum itu yang jadi tantangan Atalanta ketika menjamu Valencia saat laga fase knockout Liga Champions pertamanya di San Siro, Milan, dini hari nanti (siaran langsung Champions TV 1 pukul 05.00 WIT). ”Kami sudah memainkan permainan level tinggi di tiga atau empat musim (di Serie A). Periode luar biasa jangan terhenti (di Eropa),” harap allenatore Atalanta, Gian Piero Gasperini kepada DAZN.
Dari 24 laga Serie A, Papu Gomez dkk mengoleksi 63 gol, atau dengan rata-rata 2,62 gol per laga. Ingat saat La Dea,  lolos dari fase grup, 12 Desember lalu. Ketika itu, Atalanta juga sudah jadi klub terproduktif di Serie A dengan rata-rata 2,46 gol per laga. Dari 15 giornata, 37 gol sudah mereka ciptakan.
Di Eropa? Atalanta bukan apa-apa. Bersama Atletico Madrid, Atalanta klub kontestan 16 Besar yang paling sedikit jumlah golnya, delapan gol! ”Ketika kami di posisi yang lemah, kami bermain lebih baik. Di Eropa mereka (Valencia) yang lebih bagus dari kami,” lanjut Gasperson, julukan Gasperini, merendah.
Tantangan produktivitas pun dialamatkan ke Luis Muriel dan Duvan Zapata, dua bomber terganas di Atalanta. Muriel dengan 13 gol dan Duvan sembilan gol. Uniknya, di Eropa, mereka sama-sama baru mendulang sebiji gol! ”Melawan mereka (Valencia), seperti melawan tembok!” sebut Muriel yang selalu nirgol dari dua kali bertemu El Che, julukan Valencia, di Sevilla.
Dani Parejo dkk pun juga ingin mengubah peruntungannya. Di La Liga, pertahanan klub yang bermarkas di Mestalla itu termasuk paling bobrok di antara klub-klub sepuluh besar. Total sudah 34 kali Valencia kebobolan dari 24 jornada, 23 gol diantaranya terjadi di kandang lawan. Berbanding terbalik dengan di Eropa.
Di fase grup, pertahanan klub asuhan Alberto Celades itu yang terkuat di laga away. Dari tiga laga, hanya kemasukan satu gol. Lebih baik dari Barcelona, PSG, dan City yang kebobolan dua gol. ”Kami sama-sama susahnya. Tapi, tetap menarik,” klaim gelandang Valencia, Geoffrey Kondogbia dalam wawancara kepada La Gazzetta dello Sport.
Kebetulan, bagi Kondogbia, ini laga pertamanya di Milan setelah dia meninggalkan Inter Milan, musim panas 2017. Spesialnya, laga pertama Kondogbia di Inter juga terjadi di sana dan melawan Atalanta, 23 Agustus 2015, yang berakhir dengan kemenangan bagi Inter. Akankah ini berulang? ”Fifty fifty. Kami memang berpengalaman di Liga Champions tapi mereka (Atalanta) akan lebih lepas karena belum pernah merasakan pengalaman seperti ini (main di fase knockout Liga Champions),” sambungnya.(jpc/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here