Berutang untuk Tutup Utang

0
382
CEO Weder Bremen, Klaus Filbry

HARIANHALMAHERA.COM – Pada 27 Februari 2010, Portsmouth menjadi klub Premier League pertama yang dinyatakan bangkrut. Selain hukuman pemotongan 9 poin, Pompey–julukan Portsmouth– juga mengakhiri musim dengan finis di dasar klasemen.

Dua tahun berselang, Pompey yang bermain di Championship kembali dinyatakan bangkrut karena menunggak utang GBP 4 juta atau Rp 74,5 miliar.

Cerita itu kembali membayangi Pompey musim ini. Apalagi setelah EFL selaku penyelenggara League One, kompetisi kasta ketiga Inggris yang diikuti Pompey, memberi sinyal penghentian kompetisi.

Menurut CEO Pompey Mark Catlin, estimasi pemasukan dari prize money dan hak siar televisi senilai lebih dari GBP 2,5 juta (Rp 46,5 miliar) terancam melayang. ”Klub ini terlalu bergantung kepada (kucuran dana, Red) pemilik. Ketika datang situasi sulit (pandemi Covid-19 yang membuat kompetisi terhenti, Red), kami kelimpungan,” ucap Catlin kepada Portsmouth News.

Sebagai catatan, pemilik Pompey Michael Eisner baru membeli klub yang pernah menjuarai empat kompetisi kasta teratas di Inggris itu tiga tahun silam.

Juga, mantan CEO The Walt Disney Company tersebut sudah mengeluarkan lumayan banyak biaya untuk membantu Pompey tetap kompetitif di League One tiga musim terakhir. Bahkan, klub yang pernah mencapai masa keemasan pada 2006 dengan nama-nama seperti David James, Glen Johnson, Sol Campbell, Niko Kranjcar, hingga Nwankwo Kanu itu punya peluang promosi ke Championship musim ini.

Selain Pompey, klub Bundesliga SV Werder Bremen juga berada di ambang kebangkrutan. Runner-up edisi pertama Europa League (2008–2009) itu pun terpaksa mendobrak prinsipnya. Yakni, mengajukan pinjaman ke bank.

”Sepanjang sejarah klub (yang sudah berusia 121 tahun, Red), baru kali ini kami berutang,” ungkap CEO Werder Klaus Filbry kepada Rotenburger-Rundschau.

Die Werderaner –julukan Werder Bremen– mengajukan utang ke bank milik pemerintah, KfW Bank. Jumlah pinjamannya disebut mencapai EUR 10 juta (Rp 165,3 miliar). ”Kami harus melakukannya (berutang, Red) untuk menutup utang. Jika tidak, kami bisa hancur di akhir tahun,” imbuh Filbry.

Filbry mengklaim, sekalipun Bundesliga musim ini dilanjutkan dengan penonton, Werder masih merugi EUR 20 juta (Rp 330,7 miliar). Kerugiannya bisa lebih dari dua kali lipat seandainya laga dihelat tanpa penonton.

Di sisi lain, pemasukan dari sponsor turun separo, sedangkan hak siar televisi mungkin hanya kebagian 25 persen. Itu pun seandainya sukses dalam negosiasi. ”Belum termasuk uang tiket musiman yang harus dikembalikan kepada fans kami seandainya kompetisi tidak berlanjut,” kata Filbry (jpc/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here