HARIANHALMAHERA.COM– musyawarah desa (Musdes) penyusunan rencana kerja pemerintah desa (RKPDes) Saketa, Kecamatan Gane Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Kamis (26/3), siang tadi terpaksa diskorsing (dihentikan) hingga batas waktu tidak ditentukan. Hal itu terjadi lantaran suasana forum tertinggi di desa itu berlangsung tegang akibat diwarnai aksi protes penuh emosi dari warga setempat hingga nyaris ricuh.
Beruntung, suasana panas itu mampu disejukan setelah Ketua BPD Saketa, Muammar J. Tuheteru, mengambil langkah bijak berupa skrosing Musdes tersebut, setelah beberapa warga menyampaikan protes lantaran menganggap pelaksanaannya tidak berguna, sebab selama tiga tahun berturut, yakni 2023 sampai 2025, Kades Saketa, Idjul M. Kiat, sendiri tidak pernah buka laporan penggunaan dana desa (DD).
Ismail Kiat, salah seorang warga Saketa, mengatakan bahwa pembahasan DD tahun 2026 seharusnya BPD dan Pemdes Saket punya dokumen pengelolaan DD 2025, agar Musdes bisa berjalan sesuai dengan perencanaan, karena kalau tidak ada maka percuma saja.
“Jadi kalau ada pembicaraan diluar bahwa Kades Idjul Kiat makan doi ya iya, karena perencanaan kaya begini, dan hari ini saya ikut musdes di Saketa, musdes yang paling aneh. Kayak orang buat perkumpulan arisan begitu,”kesalnya.
Senada disampai Rizki Ramli, bahwa alangkah baiknya Musdes ditunda, karena kalau dipaksa lanjut tanpa menyelesaikan masalah sebelumnya, maka Musde ini hanya menjadi formalitas, tidak menyentuh persoalan yang sebenarnya.
“Kita tahu bersama bahwa pelaksanaan Musdes di kantor Camat ini akibat dari kantor Desa Saketa sudah hampir 8 bulan ini telah dipalang. Tentunya, hal itu karena masalah DD selama tiga tahun berturut tidak ada laporan, bahkan audit dari Inspektorat Halsel pun belum keluar, sehingga percuma Musdes dilaksanakan tanpa pertanggung jawaban DD 2025 dan dua tahun sebelumnya,”tandasnya.
“Kades harus buka semua data tersebut di forum ini agar bisa kita lihat dan uji bersama, kalau tidak ada masalah, tidak perlu takut untuk terbuka, apa lagi Dana Desa Saketa yang telah di audit tapi hasilnya belum keluar hingga saat ini, jadi segera skor,”sambungnya.
Lebih fatalnya lagi dikatakan Aldi, satu warga Dusun Marimoi, Desa Saketa bahwa sebelum Musdes dilaksanakan tentunya harus ada musyawarah dusun (Musdus), namun kenyataan tidak dilakukan.
“Artinya kita di Dusun Marimoi selalu dianak irikin, karena selama tiga tahun ini tidak ada musdus atau penyerapan aspirasi dari tingkat RT RW, kok tiba-tiba Musdes,”cengangnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan Musdes akan kembali dilanjutkan. Warga dan Pemdes Saketa pun membubarkan diri masing-masing.(red)












