HARIANHALMAHERA.COM–Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan PT IWIP kepada salah satu tenaga kerja (naker) lokal atas nama Bakir Usman memicu aksi pemalangan jalan Weda-Lelilef yang dilakukan puluhan pemuda yang tergabung dalam Front Pemuda Weda.
Dalam aksinya itu, FPW menilai PHK terhadap Bakir terkesan janggal dengan alasan yang tidak rasional, serta bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
Alasan pemecatan Bakir patut dicurigai sebagai bentuk intimidasi dari oknum di Perusahan terhadap tenaga kerja lokal,” kata Rian, koordinator aksi dalam surat terbuka kepada PT IWIP
Bakir sendiri di PHK berdasarkan surat nomor : 0006/HR/WBN/SPHK/VI/2022. Dia dinyatakan telah merugikan perusahan atas kelalaian, dalam memberikan dana penanganan demonstrasi.
Namun, dia menilai PHK terhadap Bakir adalah bentuk jebakan. Sebab, dia mencurigai, Bakri dan sejumlah rekanya diberi tugas memberikan uang kepada beberapa Kades dan Pemuda di lingkar tambang dalam rangka meredam aksi demo pada May Day kemarin.
“Setelah itu Perusahan melakukan audit dana tersebut, dan turun melakukan investigasi, untuk memastikan uang yang diberikan tersalurkan. Hasil Audit menyatakan ada sejumlah uang yang tidak diberikan oleh Bakir dan Kawan-kawan. Perusahan kemudian melakukan PHK atas dasar itu. Sekalipun memiliki bukti (Nota dll) penyerahan uang, Perusahan tetap bersikukuh untuk memecat Bakir,” katanya.
“Upaya perusahaan memberikan uang, agar tidak berdemo, kami anggap telah melanggar kaidah dalam berdemokrasi dan sengaja membatasi ruang dalam menyampaikan pendapat di depan umum,” tukasnya.(tr1/pur)