39 Kasus Positif Covid-19 Baru di Halut

4 ASN, 6 Nakes, 29 Warga, Dilakukan Isolasi Mandiri

0
497
Swab Tes yang dilakukan ASN Halut (Foto : Muhrid Kanopa)

HARIANHALMAHERA.COM–Alarm peringatan covid-19 di Kabupaten Halut, kembali menyala. Di tengah kesimpangsiuran data perkembangan penyebaran virus, ternyata ada 39 kasus positif covid-19 yang baru terkonfirmasi. Temuan kasus ini diperoleh dari pemeriksaan sampel yang dilakukan di laboratorium Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) Tobelo.

Kepala Laboratorium RT-PCR Tobelo, Drs Jubhar C Mangimbulude MSc Phd yang diwawancarai Harian Halmahera, Rabu (19/1), menyebut pemeriksaan sampel swab sudah dimulai sejak pekan lalu, tepatnya Senin (11/1).

“Sudah sepekan berjalan (pemeriksaan). Terhitung sejak pekan lalu (11 Januari), kami sudah memeriksa sebanyak 260 sampel. Saat ini, masih ada 96 sampel yang sedang diperiksa. Jadi totalnya sebanyak 356 sampel,” kata Jubhar.

Terkait teknis pemeriksaan sampel, mantan Rektor Universitas Halmahera (Uniera) ini menyebut, tidak ada kendala yang ditemukan. Mesin RT-PCR berjalan lancar. Demikian pun bahan lab lainnya sudah tersedia.

“Selama ini ketersediaan reagen selalu menjadi masalah sehingga menyebabkan lambatnya proses pemeriksaan sampel yang berujung pada penumpukan sampel. Namun, saya bersyukur, reagen ini sudah disediakan (NHM) dalam jumlah banyak,” terangnya.

Disinggul kabar dari ratusan sampel yang diperiksa ditemukan ada yang positif, Jubhar membenarkannya. Dia menjelaskan, sampel pertama yang diperiksa diambil saat swab test di lantai II kantor Bupati Halut pada 11 Januari, pekan lalu.

Pada pemeriksaan swab ini diikuti sebanyak 166 orang yang terdiri dari 100 tenaga kesehatan (nakes) dan sebanyak 66 Aparatur Sipil Negara (ASN). Dari 166 sampel tersebut, lanjutnya, didapati ada 10 sampel yang terkonfirmasi positif. “Nah 10 positif, masing-masing 4 positif dari ASN dan 6 positif dari tenaga medis,” bebernya.

Usai swab tes ASN dan tenaga medis, Jubhar menyebut, pihaknya menerima dan memeriksa sampel dari swab tes yang dilakukan terhadap pasien di rumah sakit, baik pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan. Dari hasil pemeriksaan sampel ditemukan 29 yang terkonfirmasi positif. “Jadi totalnya 39 sampel yang terkonfirmasi positif,” kata Jubhar.

“Itu data sementara dari 260 sampel yang sudah diperiksa. Saat ini sebanyak 96 sampel masih dalam proses pemeriksaan. Semua data ini sudah kami teruskan ke pemerintah, dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes),” sambungnya.

Disinggung potensi penambahan kasus positif ke depan, Jubhar mengaku, sulit untuk diprediksi meski ada potensi bertambah. Alasannya, data kasus ini harus betul-betul real. Karena akan menentukan arah kebijakan pemerintah dalam pengendalian penyebaran virus. “Memang harus digiatkan testing covid-19. Kemudian, dilanjutkan dengan tracing (penelusuran) berdasarkan data testing. Selanjutnya treatment (pengobatannya),” tegasnya.

Dari analisis sementara, Jubhar mengaku, kemungkinan warga Halut yang terpapar virus covid-19 sudah banyak tanpa disadari. Dan, sudah banyak pula yang sembuh sendiri, tanpa disadari pula. Mengapa? Karena tidak pernah diperiksa. “Bagi saya, poinnya disini bukan positif atau tidak. Karena pada dasarnya manusia itu harus terpapar agar mendapatkan imun alami. Imun ini diperkuat lagi nantinya dengan vaksin dan pola hidup sehat,” jelasnya.

Diketahui, program testing covid-19 memang sudah direncanakan oleh pemerintah. Hanya saja, untuk Kabupaten Halut belum diketahui berapa persen target testing covid-19 dari total penduduk sebanyak 199 ribu jiwa.

Bagi Jubhar, makin banyak orang yang dites, tentu akan semakin bagus. Karena data testing ini sangat penting bagi pemerintah. “Saya memperkirakan, dengan sumber daya lab yang ada saat ini, dalam setahun bisa memeriksa sekira 13 ribu sampel. Kalau mau lebih, seperti 20 ribu sampel, tentunya harus ada konsekuensi tambahan, seperti menambah tenaga analisis lab, dan kebutuhan lab lainnya,” ujarnya.

Dari data sementara ini, ditanya rekomendasi apa yang baik dilakukan pemerintah, Jubhar menyebut, sosialisasi dan edukasi. Menurutnya, mindset atau cara berpikir warga harus diubah, agar benar-benar sadar virus ini nyata dan perlu untuk diperiksa. “Selama ini kana da yang keliru. Ke dokter, rumah sakit atau puskesmas, ketika sakit. Jika tidak sakit tidak perlu. Padahal, untuk menjaga kesehatan harus rutin memeriksakan diri. Agar tahu, ketika ada sesuatu, tahu antisipasinya seperti apa,” terangnya.

“Jadi harus diubah, pemeriksaan kesehatan bukan hanya untuk orang sakit, tapi pada orang yang sehat pun harus diperiksa. Agar dia tahu, apakah memang betul dia itu tidak. Saat ini masih ada semacam ‘sanksi sosial’ jika orang sehat ke rumah sakit. Pasti akan dicap sakit. Ini mungkin yang harus diubah,” usulnya.

Meski demikian, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Halut Muhammad Tapi Tapi menyebut, hanya ada 10 kasus positif covid-19 baru di Halut. Dia menyebutkan, 10 kasus itu didapat dari 166 orang yang disambil swab di kantor bupati. “Ada 166 orang yang diperiksa, terdiri dari pejabat eselon II dan II, tenaga kesehatan. Hasil pemeriksa positif ada 10 orang, dari tenaga kesehatan 7 orang dan dari pejabat 3 orang,” ujarnya.

Untuk ASn dan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif, Muhammad menyebut, sudah ditindaklanjuti. Mereka sedang melakukan isolasi mandiri di rumah karena semuanya positif tanpa gejala. “Selama 10 hari mereka akan isolasi mandiri. Setelah itu akan diperiksa kembali kesehatannya,” tegasnya.

Sementara itu, dari situs resmi satgas cobid-19 Provinsi Maluku Utara (Malut) http://corona.malutprov.go.id/, untuk Kabupaten Halut per 19 Januari 2021, tercatat ada penambahan satu kasus positif. Sedangkan akumulasi secara keseluruhan, tercatat ada 2 suspec, 458 terkonfirmasi, sebanyak 381 sembuh, dan 19 meninggal.(tr-05/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here