Optimistis Pandemi Terkendali September

0
76
Ilustrasi

HARIANHALMAHERA.COM–Pemerintah memperkirakan pandemi Covid-19 bisa dikendalikan pada September tahun ini. Namun, harapan itu bisa tercapai jika beberapa catatan terpenuhi.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyatakan, catatan pertama adalah menurunkan angka reproduksi efektif atau penularan berada di angka 0,9 dari saat ini 1,2 ”Hasil estimasi, wabah mulai terkendali pada September 2021. Itu tercapai jika terjadi penurunan kasus baru secara konsisten,” ujarnya (9/2).

Angka 0,9 kasus baru per hari bisa dicapai dengan efikasi vaksin Sinovac 65 persen. Asumsinya, vaksin diberikan dua dosis per orang dengan jeda 14 hari. Dengan begitu, efek perlindungan optimal tercapai 14 hari setelah vaksinasi kedua.

Kemudian, vaksinasi untuk masyarakat umum dapat dimulai pada 1 Maret dengan 31 ribu vaksinator. Setiap vaksinator bisa memvaksin 30 orang per hari. Dengan jumlah orang yang perlu divaksin mencapai 70,98 juta orang dan pemberian vaksin sebanyak 141,96 juta suntikan, total vaksinasi per hari harus mencapai 930 ribu suntikan. ”Target vaksinasi tercapai dalam 167 hari. Hasil estimasinya, wabah mulai terkendali pada September 2021,” jelas Suharso.

Namun, dia menekankan bahwa penurunan kasus baru hingga 0,9 per hari itu bukan berarti herd immunity dapat tercapai. Herd immunity baru bisa dicapai dalam waktu 15 bulan sejak penyuntikan vaksin pertama dilakukan pada Januari 2021. ”Dengan begitu, herd immunity 70 persen di Indonesia akan dicapai pada Maret 2022,” ungkap alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Dia menuturkan, hasil yang lebih cepat juga bisa diperoleh. Asalkan, pemerintah mendapatkan tambahan vaksin Pfizer, AstraZeneca, dan Novavax yang mempunyai efikasi lebih tinggi.

Sementara itu, vaksinasi masal Covid-19 berpotensi menghasilkan cukup banyak limbah jarum suntik. Dengan sasaran vaksinasi mencapai 181 juta orang dan disuntik dua kali, potensi limbah jarum suntik yang dihasilkan 362 juta jarum.

Rata-rata berat jarum suntik adalah 1 gram untuk setiap lima jarum. Jika ditotal, potensi sampah jarum suntik hasil vaksinasi Covid-19 mencapai 72,4 ton.

Menristek Bambang Brodjonegoro menegaskan, limbah medis penanganan Covid-19 harus dikelola dengan baik. Mulai masker, baju hazmat, sampai jarum suntik bekas vaksinasi. ”Jangan sampai nanti ada berita Indonesia tidak bisa mengatasi limbah jarum suntik,” katanya.

Bambang mengakui, menangani limbah 362 juta jarum suntik bukan perkara mudah karena di luar kebiasaan produksi limbah jarum suntik sehari-hari. Dia berharap vaksinator di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengelola limbah jarum suntik dengan baik.

Dia bersyukur LIPI menghadirkan inovasi alat penghancur jarum suntik (APJS) pada 2008. Kemudian, sekarang keluar APJS LIPI generasi kedua yang memiliki sejumlah keunggulan jika dibandingkan dengan generasi pertama.

Inovator APJS LIPI Bambang Widyatmoko menyatakan, penghancuran jarum suntik dengan inovasinya cukup mudah dan cepat. Hanya dalam waktu 10 detik, jarum suntik bisa hancur menjadi serbuk. Karena prosesnya menggunakan panas yang tinggi, otomatis bakteri atau virus yang berpotensi menempel di jarum suntik tersebut musnah.

Menurut dia, ada sejumlah keunggulan di APJS generasi kedua. Salah satunya, teknologi elektrode geser. APJS generasi kedua menggunakan teknik self-heating sehingga lebih aman dari risiko korsleting. Alat itu juga bisa menghancurkan tabung suntik atau spet. (jpc/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here