Maluku Utara

2 NELAYAN DAN 1 PENUMPANG MASIH HILANG DI LAUT

×

2 NELAYAN DAN 1 PENUMPANG MASIH HILANG DI LAUT

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi : Nelayan Hilang (Foto : net)

HARIANHALMAHERA.COM–Tenggelamnya longboat berpenumpang 19 orang di Perairan Kepulauan Sula Senin (21/2) pagi, ternyata bukan satu-satunya musibah di laut yang terjadi di Maluku Utara dalam dua hari terakhir.

Sebab, disaat yang bersamaan terdapat dua nelayan yang juga dilaporkan hilang saat pergi melaut. Kedua nelayan tersebut adalah, Rustam (42 tahun) asal Sabatang, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), dan Acun, warga Desa Air Salobar, Kecamatan Weda Selatan, Halmahera Tengah (Halteng).

Rustam sendiri dilaporkan hilang saat pergi melaut pada Senin (21/2) sementara Acun sendiri sudah tiga hari dilaporkan hilang. Korban menurut pihak keluarga pergi melaut pada Sabtu (19/2) hingga kini belum kembali ke rumah.

Saat ini, kedua nelayan itu pun tengah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) setempat.

Disamping mencari kedua nelayan, Tim SAR juga tengah melakukan pencarian terhadap Alia Fataruba, penumpang longboat yang terbalik di periran Sula.

BACA JUGA : Longboat 19 Penumpang Tenggelam di Perairan Sula

Pencarian terhadap Ali Fataruba kemarin memasuki hari kedua. Namun, belum juga membuahkan hasil meski tim SAR sudah menyisir ke beberapa lokasi.

“Pencarian yang dimulai Pukul 07.00 WIT. Tim SAR dibagi dalam 4 SRU (search and rescue unit). Tim SAR gabungan ini melakukan pencarian sesuai search area masing-masing yang telah ditentukan. Pencarian dilakukan ke arah timur pulau Sanana dari lokasi kejadian,” jelas humas Basarnas dalam rilisnya.

Proses pencarian sendiri sempat terhenti pada siang hari akibat cuaca ekstrim. “Operasi akan dilanjutkan pada hari ketiga besok (Hari ini, red),”  jelasnya.

Soal bantuan kepada penumpang longboat yang meninggal dunia, Pemprov masih menunggu laporan dari Bupati Kepsul, Fifian Adeningsih Mus. “Yang jelas kita akan melakukan sesuai dengan seperti itu,bisa saja kabupaten mikir masih bisa kita tangani,jadi kalau memang disampaikan laporan kondisi darurat kepada kita untuk kita lakukan langkah-langkah,” kata Sekprov Malut, Samsuddin A Kadir.

Dia mengimbau dengan kondisi cuaca ekstrim yang saat ini, warga tetap waspada dalam melakukan aktivitas pelayaran terutama di rute-rute yang tidak ada petugasnya.

“Terutama bagi masyarakat yang ada di daerah yang jauh karena tidak ada petugas yang mengontrol. jadi mereka harus tetap berhati-hati,”, Imbaunya.

Dia juga menghimbau pemilik kapal untuk tidak melakukan pelayaran jika ada pelarangan dari instansi terkait.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kelas 1 Ternate melalui rilis resminya menyebut beberapa daerah yang berpotensi terjadi tinggi gelombang 2,4 hingga 4 meter

Diantaranya, Perairan Morotai, Perairan Halmahera Bagian Timur, Laut Halmahera, Perairan Loloda, Perairan Halmahera Barat Bagian Utara, Perairan Ternate – Batang Dua, Perairan Bacan, Perairan Obi, dan Perairan Kepulauan Sula Bagian Utara

Sementara kecepatan angin umumnya bertiup dari barat utara dengan kecepatan 5-25 knot. Kondisi ini disebabkan adanya pola tekanan rendah di perairan Arafuru yang diprediksi akan menguat dan bergerak ke wilayah Selatan NTT.

Di tempat terpisah, pihak ASDP Pelabuhan Penyebrangan Bastiong Ternate tehitung mulai Minggu (21/2) terpaksa mengalihkan penyebrangan kapal Feri tujuan Bastiong Ternate, ke Sofifi Tidore Kepulauan (Tikep).

Sejumlah rute penyebrangan ke Bitung, Babang, Makeang dan Moti untuk sementara ditunda.

Pengalihan tersebut menyusul kondisi cuaca buruk. Akubat pengalihan ini, antrian kendaraan roda empat hingga roda enam terlihat menumpuk di pelabuhan penyebrangan Bastiong Ternate.

Kepala ASDP Pelabuhan Feri Bastiong, Zainal Abidin penundaan dan pengalihan rute  penyebrangan tersebut sambil menunggu kondisi cuaca normal.

KMP Portlink rute Bastiong-Bitung misalnya, sudah hampir tiga hari tertahan dipelabuhan Bastiong lantaran belum diperkenankan berangkat. Untuk sementara, KMP Portlink  akan melayani rute Bastiong- Sofifi.

“Senin malam tadi juga kapal Sofifi tujuan Bastiong terpaksa balik kembali karena kondisi cuaca. Pagi tadi baru bisa berangkat,” katanya.

Pengawasan lanjut dia, selain melalui ASDP juga melalui BPTD atau Balai Kementrian yang diserahi tanggung jawab mengeluarkan ijin berlayar.

“Jadi pengawasan selain dari kita ASDP juga ada dari pihak BPTD,” pungkasnya.(lfa/tr1/par/pur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *