OpiniZona Kampus

Implementasi Pepatah dan Petitih Minangkabau Dalam Kehidupan Sehari-hari

×

Implementasi Pepatah dan Petitih Minangkabau Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebarkan artikel ini
pepatah petitih minangkabau

Oleh: Givel Aftriyade,

(Mahasiswa Universitas Andalas jurusan Sastra Minangkabau)

Salah satu metode pendidikan di minangkabau adalah melalui petatah dan petitih. Uniknya, tanggung jawab pendidikan ini ditanggung oleh mamak. Peran ayah lebih terbatas pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, sedangkan pendidikan moral dan adat lebih banyak diambil alih oleh mamak…

Ketika seorang anak kemenakan memiliki tingkah dan kurenah yang tidak disukai masyarakat, yang biasa dikenal dengan tidak beradat atau tidak tahu dinan ampek, yang pertama kali dipertanyakan adalah mamak dan penghulunya.

Banyak yang sudah membuktikannya, untuk tercapainya kehidupan yang damai dan sukses, pepatah minang berikut ada baiknya diamalkan.

Lamak di Awak Katuju di Urang

Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan satu sama lain hendaklah saling bisa menjaga kerukuan. Satu sama lain haruslah saling bisa menjaga toleransi. Sebelum bertindak, hendaklah memikirkan akibat yang mungkin ditimbulkan. Setiap tindak tanduk dan perilaku janganlah sampai merugikan orang lain. Sebagaimana dijelaskan lewat pepatah minang Lamak di Awak, Katuju di Urang, artinya setiap hal yang bermanfaat yang kita lakukan haruslah memberikan manfaat kepada orang lain.

Bajalan Paliharo Kaki, Bakato Paliharo Muluik

Dalam pendidikan tatakrama di Minangkabau dikenal Kato Nan Ampek. Aturan ini berisikan tata krama dan sopan santun dalam bertutur kata, baik kepada orang yang lebih tua, sama besar, lebih kecil hingga kata-kata untuk orang yang disegani.

Dalam bertutur kata, setiap orang hendaklah bisa menakar situasi dengan tepat, dalam lingkungan seperti apa ia berada. Jangan sampai dalam kondisi formal dan dihadiri ninik mamak dan orang disegani lainnya, terloncat ucapan dan becandan yang keterlaluan dan tidak pada tempatnya.

Tangan Mancancang Bahu Mamikua :

Tak hanya ucapan, setiap tindakan dan pekerjaan yang dilakukan haruslah dipertanggungjawabkan. Seorang yang tidak bisa mempertangggungjawabkan perkataan dan perbuatannya biasanya akan diasingkan dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

Untuk itu, seseornag haruslah lurus sejak dalam niat dan pikirannya, kemudian dikeluarkan dalam bentuk ucapan maupun pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, baikkah ataupun buruk hasil tersebut.

Duduak Marajuik Jalo, Tagak Maninjau Jarak :

Pepatah ini mengajarkan untuk bekerja keras. Tidak ada waktu yang terbuang percuma, karena tangan terus bekerja baik itu dalam kondisi berdiri maupun duduk, dalam keadaan sempit maupun lapang.

Dalam istilah minang juga dikenal istilah ‘duduk ubi’ , yaitu meskipun duduk-duduk saja namun tetap ‘berisi’, maksudnya menghasilkan sesuatu.

Sasa Dahulu Pandapatan, Sasa Kudian Indak Baguno :

Sebelum memulai sesuatu, seperti pekerjaan haruslah dipikirkan dahulu masak-masak. Semua untung rugi ditimbang dengan baik, agar tercapai hasil yang diinginkan dengan kesalahan (kerugian) yang minimal.

Dalam istilah minang juga dikenal istilah “Jalan Salangkah madok Suruik’” artinya ketika akan melangkah kedepan, ada masanya untuk mundur kemasa lalu, belajar dari pengalaman masa lalu agar langkah ke depan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

Satitiak Jadikan Lauik, Sakapa Jadikan Gunuang

Ini merupakan pepatah yang sangat fundamental dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya hingga beragama di Minangkabau. Setiap hal yang diterima, ilmu yang dipelajari, meskipun itu sangat sederhana dan kecil harus bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Lanjutan dari pepetah ini adalah Alam Takambang Jadi Guru. Memang semua nilai-nilai luhur yang diwariskan melalui petatah petitih di minangkabau adalah hasil dari merenung dan mengkaji alam semesta cipataan Tuhan. Darinya kemudian lahir bulir-bulir hikmah yang digunakan dalam menopang kehidupan sosial di Minangkabau.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *