Catatan Dahlan Iskan

Kembali Percaya

×

Kembali Percaya

Sebarkan artikel ini
Oleh : Dahlan Iskan

 

Pemkot Surabaya sudah bisa teriak: kami akan punya lab Covid-19 sendiri. Kami tidak menyerah. Kami akan keluar dari zona merah ini.  Kalau kapasitas swab test di laboratorium milik sendiri itu sudah bisa ditingkatkan menjadi 4.000 sehari, siapa yang harus diprioritaskan untuk dites?

Tentu, keluarga dan teman dekat pasien yang sekarang dirawat karena Covid-19. Setelah itu para karyawan restoran, supermarket, minimarket, pemilik dan penjaga warung-warung, pedagang-pedang di pasar dan pegawai kantor-kantor yang bisnis mereka tetap jalan.

Tujuannya: agar ekonomi tetap bisa jalan. PHK bisa dicegah. Jangan ditafsirkan mereka sebagai sasaran korban. Misalnya sudah ada yang menghembuskan isu: test Covid-19 itu tes kematian. Mereka pun lari dari kewajiban tes.

Kalau saja dua bulan lalu ada lab di Surabaya yang bisa mengerjakan 4.000 tes sehari, sekarang sudah lebih tenang. Tapi untuk apa disesali? Lebih baik move on kan?

Katakanlah seminggu lagi laboratorium baru milik Pemkot Surabaya sendiri itu mulai berfungsi. Kapasitas tes mulai meningkat. Dalam dua hari seluruh keluarga dan teman pasien sudah berhasil dites.

Maka dalam satu bulan ke depan peta jalan mengendalikan Covid-19 di Surabaya sudah terlihat. Kalau peta jalannya sudah ada maka rute penyelesaiannya menjadi jelas. Dan terarah. Tidak lagi serba gamang. Seperti melihat peta buta.

Memang masih ada satu pertanyaan mendasar lagi: bagi yang hasil testnya positif bagaimana?

Anda sudah tahu jawabnya. Sudah hafal: karantina 14 hari.

Karantina di mana?

Jangan panik: di rumah sendiri saja.

Hanya bagi yang di rumah itu banyak penghuni lainnya sebaiknya mencari tempat karantina lain. Agar tidak menularkan Covid-19 ke seisi rumah. Tempat karantina lain itu bisa macam-macam. Bagi orang mampu bisa pindah ke hotel. Itulah perlunya ada hotel khusus dengan menjalankan protokol Covid-19.

Di Surabaya, sudah ada hotel yang seperti itu: Hotel Harris dan Hotel Pop di Gubeng. Atau, bagi yang rumahnya besar, pilihlah satu kamar untuk karantina. Misalnya kamar yang menghadap ke taman. Agar tidak bosan. Juga agar tiap hari bisa berjemur di taman itu.

Penghuni rumah yang lain tidak usah panik dan takut. Cukup jaga jarak dengan yang positif tersebut. Dan tidak usah mencuci alat-alat makannya. Kirimkan kepadanya makanan dalam bentuk bungkusan atau piring yang sekali pakai. Ajaklah yang lagi karantina itu berbicara tiap hari. Dari jarak yang cukup. Agar jiwa yang lagi karantina itu tetap sehat.

Bagi yang miskin dan di rumahnya banyak anggota keluarga mungkin bisa dicarikan rumah kosong di sekitarnya. Begitu banyak rumah yang disewakan. Pak RT dan Pak RW pasti tahu di mana ada rumah kosong atau rumah yang lagi disewakan.

Jadikan rumah itu tempat karantina gratis. Biaya dipukul ramai-ramai. Demi kesehatan bersama. Saya dan DI’s Way mau bekerja sama dengan pak RT yang seperti itu. Kita bisa bersama-sama membayar sewa rumah itu. Dan menyediakan makanan bervitamin bagi yang karantina.

Saya sudah ajak diri saya –bersama pembaca DI’s Way di Surabaya untuk ikut mengatasinya.

Bisa juga Pemkot memanfaatkan sekolah-sekolah yang lagi kosong untuk karantina mandiri seperti itu. Sekolah yang terdekat.

Kalau di Tiongkok, Pemda bisa menyita apartemen yang masing kosong untuk tempat karantina seperti itu. Mereka membuat Perda sebagai dasar hukumnya. Rumah kosong, rumah yang lagi disewakan, sekolah-sekolah, harus dimanfaatkan.

Pekerjaan para relawan pun menjadi lebih konkrit. Relawan mana di RT mana dengan pekerjaan apa. Mahasiswa, anak-anak SMA, Pramuka, Karang Taruna, Bonek-Bonita pasti bisa mengatasi di sektor relawan itu.

Pertanyaan besarnya: bagaimana cara mengawasi agar yang positif nanti tidak keluyuran?

Tidak ada jalan lain: teknologi harus turun tangan. Yakni teknologi monitoring. Yang Apps-nya sudah tersedia. Sudah bisa diakses. Yang bisa memonitor si wajib karantina tadi meninggalkan rumah atau tidak.

Saya tidak perlu menyebut nama siapa yang menciptakan Apps itu –siapa tahu ada yang alergi terhadap nama itu. Tapi Alghozi pun sekarang masih di Surabaya. Siap berjibaku membantu secara gratis.

Tentu jangan juga terlalu menakutkan. Yang wajib karantina itu tetap boleh keluar rumah. Misalnya untuk olahraga. Asal jangan bertemu orang, jangan meludah sembarangan dan jangan menyentuh benda yang biasa dipegang orang lain, seperti kursi di pinggir jalan.

Tentu lebih baik lagi kalau yang wajib karantina itu dipasangi gelang pahlawan Covid-19. Mereka benar-benar pahlawan karena wani menyelamatkan diri dan orang lain dari tertular Covid-19.

Surabaya sudah menemukan peta jalan. Inilah salah satu cara membangun kepercayaan masyarakat. Angka penderita Covid-19 bisa naik drastis –untuk sementara– tapi masyarakat menjadi tahu kita akan ke mana. Surabaya sedang membangun kembali kepercayaan. Masih bisa. Kita adalah bangsa yang mudah percaya apa saja.(dis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *