Kebudayaan Daerah Mampu Bentuk Karakter Generasi Milenial

0
654
BANGKITKAN: Tarian Soya Soya, salah satu kebudayaan daerah Maluku Utara yang dimainkan anak-anak. (foto: kompas.com)

HARIANHALMAHERA.COM– Memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, lalu, banyak tema yang diangkat erkait pendidikan Indonesia. Salah satunya, kembali pada kebudayaan daerah untuk memperkuat karakter generasi milenial.  

Pendidikan karakter yang berlandas pada nilai-nilai kebudayaan, juga diyakini bisa menjadi benteng untuk memfilter nilai, pandangan, dan sikap intoleransi dan radikalisme yang dapat mengarah kepada kekerasan dan terorisme.

Meski demikian, pengamat pendidikan nasional, Darmaningtyas, menyebut banyak tantangan yang dihadapi. Salah satunya, minimnya tokoh-tokoh sekarang ini, yang bisa menjadi panutan masyarakat. Ini membuat para generasi milenial seolah-olah tidak memiliki panutan.

Dia optimis, dengan keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, pendidikan karakter pada era sekarang seharusnya berlandaskan kepada kebudayaan yang ada di daerah setempat.

“Ini agar para anak-anak generasi milenial bisa mengerti mengenai apa yang menjadi budaya yang ada di daerahnya masing-masing, apalagi budaya bangsa ini sangat melimpah. Sehingga pendidikan karakter itu nantinya akan kembali tumbuh pada jiwa para generasi milenial itu,” ujar Darmaningtyas di Jakarta, Jumat (3/5), melansir beritasatu.com.

Namun sayangnya, menurut Darmaningtyas, anak muda sekarang kurang begitu berminat kepada nilai-nilai yang sifatnya normatif. Memang, pendidikan karakter mau tidak mau sifatnya normatif.

Dia memberikan contoh, pada era generasi dirinya atau generasi X dulu masih ada pertunjukan kebudayaan seperti wayang. Sehingga, yang menjadi referensi saat itu adalah para tokoh atau figure di dalam pewayangan yang menggambarkan mana yang baik dan mana yang buruk di tokoh-tokoh tersebut.

“Tentu beda dengan generasi sekarang ini yang referensinya sudah tidak itu lagi. Tantangan lain sekarang ini adanya serbuan media global itu juga sangat gencar. Selain itu penanaman nilai-nilai yang berlandaskan pada kebudayaan juga cenderung minim,” ujar alumni Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini.

Selain itu menurutnya, kelemahan yang menjadi problem yang ada pada bangsa sekarang ini kalau membicarakan tentang pendidikan karakter selalu diidentikkan dengan pendidikan agama. Sekarang ini, penyelesaiannya lebih kepada menambahkan mata pelajaran agama.

“Padahal seharusnya tidak demikian. Karena seperti kesenian, sastra, olahraga, pramuka itu mestinya bisa menjadi media untuk dijadikan sebagai wahana pendidikan karakter. Ini yang saya kira banyak tantangan dan kendalanya,” tuturnya.

Menurut pria kelahiran Gunung Kidul ini, pendidikan karakter itu sebetulnya lebih kepada menciptakan panutan. Dan peran pemerintah mestinya menciptakan panutan-panutan yang bisa menjadi panutan bagi murid-muridnya.

“Tidak usah jauh-jauh, ketika orang melihat Menteri Kelautan dan Perikanan (Susi Pudjiastuti), mereka melihat sosok orang yang memiliki karakter yang sangat kuat, meskipun secara formal tingkat pendidikannya bu Susi tidak terlalu tinggi. Nah seperti itu memberikan contoh pada para generasi milenial karena secara tidak langsung karakter itu akan terbentuk pada diri seseorang,” ujarnya.(bsc/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here