WARGA MASIH DILANDA KETAKUTAN

Enggan Kembali ke Rumah, Pilih Tinggal di Tenda Darurat

0
255
BANTU WARGA: Anggota gabungan TNI/Polri mendirikan tenda pengungsi di depan Kantor Camat Tobelo Barat. (Foto : Kodim 1508/Tobelo)

HARIANHALMAHERA.COM–Gempa yang melanda Halmahera Utara (Halut) Senin (10/1) pagi, tidak hanya mengakibatkan sebagian warga di dua kecamatan yakni Tobelo Barat dan Kao Barat, kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya rusak digunjang gempa.

Namun, gempa dengan magnitudo 5,5 skala richter (SR) itu juga turut menyisahkan ketakutan bagi warga. Mereka enggan untuk kembali ke rumah dan memilih tinggal di tenda-tenda darurat yang dibuat di halaman samping rumah masing-masing.

Seperti yang terpantau Harian Halmahera di Desa Kurusi Kecamatan Tobelo Barat kemarin. Hampir sebagian besar warga yang rumahnya rusak meski hanya rusak ringan, mendirikan tenda-tenda darurat dari terpal yang ada.

BACA JUGA : Saat Gempa Terjadi, Micen dan Oktoviana Masih Tertidur

Ester Malige, salah satu warga Kusuri yang ditemui di dalam tenda dekat rumahnya mengaku belum berani beraktivitas di dalam rumah. Apalagi, saat gempa terjadi, diding rumahanya juga sampai retak.

“Saya sampai sekarang masih trauma dengan kejadian kemarin, sehingga saya dan keluarga membuat tenda kecil, untuk menghindari gempa susulan, karena sebagian dinding rumah kami juga sudah retak”ungkapnya

Bahkan, Ester mengaku tak lagi kembali ke rumah semenjak gempa menggunjang rumahanya Minggu (9/1). “Kami sudah tiga hari berada di tenda ini, tidak ada lagi aktifitas yang kami lakukan di dalam rumah, semua aktifitas kami baik itu memasak maupun makan tetap di tenda”tuturnya

Apalagi, selama tinggal di Kusuri, dia tidak perna merasakan gempa sekuat ini. Saat gempa pertama terjadi pada Minggu, dia bersama suaami saat itu berada di dalam rumah.   “Saat terjadi goncangan kami lansung lari keluar rumah, mereka saat itu panik karena gempa yang sangat kuat yang di rasakan selama ini,” tukasnya

Ketakutan juga masih menghantui keluarga Joni Jin yang juga mendirikan tenda di halaman depan rumahanya yang runtuh akibat gempa. “Saat gempa itu saya dan istri berada di dapur, kami lansung berlari keluar rumah,” bebernya Warga berharap Pemerintah bisa memperbaiki rumah mereka yang rusak akibat gempa. “Walaupun itu hanya berupa material” pintanya

Kepala Desa (Kades) Kusuri Indrianti Oeijano mengakui ketakutan akan terjadinya gempa susulan itu masih menghantui warganya pasca gempa 5,5 Senin pagi itu. “Karena takut gempa susulan, mereka tetap tinggal di tenda-tenda meski ada yang rumahnya hanya retak,” katanya.

Di Kusuri sendiri, tercatat 6 rumah yang rusak berat, sedang yang rusak sedang berkisar di angka 60 sampai 70 rumah. “Banyak rumah yang rusak walaupun tidak berat, termasuk fasilitas umum”ujarnya Selasa (11/1)

Dia mengaku, pasca gempa, Bupati Frans Manery bersama istri sempat turun melihat kondisi warganya sekaliugus memberikan batuan sembako.

“Dan itu (Bantuan, red) sudah di salurkan ke masyarakat yang terdampak gempa, untuk saat ini kami hanya meminta BPBD agar menyediakan tenda untuk masyarakat”jelasnya

Kades juga mengimbau warga agar tidak terlalu panik, sehingga kondisi kesehatan tetap terjaga. “Yang terpenting tetap siaga, semoga gempa ini sudah tidak terjadi lagi,” pintanya.

Di lain tempat, BPBD Halut mulai mendistribusi bantuan berupa sembako dan tempat tidur untuk korban gempa di dua Kecamatan. BPDB juga mendirikan tenda pengungsi di depan Kantor Camat Tobelo Barat untuk mengantisipasi ada warga yang mengungsi.

“Karena senin malam, masyarakat Wangongira sudah mengungsi ke Kator Camat Tobelo Barat, sebagian besar trauma sehingga mereka menghindari gempa susulan,” terang Kepala BPBD Halut Abner Manery Selasa (11/1)

Abner menyebut di Desa Wangongira hanya empat rumah dan satu fasilitas umum yang rusak. Untuk bagngunan yang rusak, Abner menegaskan Pemkab akan tetap memberikan bantuan

Saat ini BPDB sudah mengambil data jumlah rumah warga yang rusak di sejumlah desa untuk memastikan agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. “Kami memberikan bantuan rumah ini, bukan berarti permanen tetapi hanya semi parna untuk bisa di tempati oleh pemilik rumah,” tuturnya.

BACA JUGA : Peduli Korban Gempa Halut, NHM Salurkan Sembako

Sementara itu, peronel gabungan TNI-Polri yang terdiri dari Kodim 1508/Tobelo, Satgas Yonif RK 732/Banau, Pos TNI AL Tobelo, Polres Halut bersama Tagana, diterjunkan ke sejumlah desa yang terdampak gempa.

Dandim 1508/Tobelo Letkol Inf I Putu Witharsana Eka Putra kehadiran anggota TNI/Polri ini membantu warga yang sedang tertimpa musibah.  “Membantu dalam bentuk tenaga, materil, maupun hadir ditengah tengah masyarakat untuk memberikan moril agar tidak trauma terutama anak-anak psikologisnya tetap terjaga dalam situasi bencana,” katanya.

Selain itu, para personil TNI/Polri ini juga membantu warga membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan dan mendirikan tenda pengungsian.

Dandim menyebut, saat ini sebanyak 90 warga yang berasal dari Desa Wangongira yang mengungsi di kantor Camat Tobelo Barat, ” Dari 90 jiwa ini semuanya berasal dari Desa Wongongira, mereka masih trauma dengan gempa susulan” jelasnya. (cw/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here