Uang Nasabah Karapoto Masih Misterius

Belum Mau Proses Hukum, Ancam Boikot Pemilu

0
618
MENGUAP?: Para nasabah PT Karapoto berusaha menghalau Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda yang hendak menuju ke mobilnya usai menghadiri hearing dengan DPRD, Forkopimda, dan para nasabah di gedung DPRD Kota Ternate (8/3). (foto: eva/harianhalmahera)

HARIANHALMAHERA.COM– Sampai detik ini, misteri uang milik ribuan nasabah PT Karaporo Financial Teknologi (Fintek) yang ditaksir mencapai ratusan miliaran, masih belum juga terjawab.

Pihak Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara (Malut) sudah memastikan, uang yang dikelola perusahaan milik Fitri Puspita Hapsari Doa itu tidak disimpan di bank yang ada di Indonesia.

Ini disampaikan langsung Wakil Ketua Dewan Kota (Dekot) Ternate Mubin A Wahid, usai hearing dengan perwakilan nasabah dan Forkopimda di gedung DPRD Ternate.

Menurutnya, ada pernyataan dari Kepala BI Malut kalau dana nasabah itu tidak dimasukan dalam bentuk deposito atau tabungan di seluruh bank yang ada di Indonesia.

“Jadi ditanya, apakah ada dana atau tidak, itu kan beliau (Kepala BI Malut) setelah dikonfirmasi ke bank-bank, mereka tidak titipkan di bank manapun. Ada tapi cuma Rp 1-2 juta. Dana yang fantastis itu tidak ada,” terang Mubin.

Hearing kemarin menurutnya, setelah mempertimbangkan berbagai usulan yang disampaikan, baik dari perbankan, kejaksaan, kepolisian, dan Pemda, disimpulkan ada tiga hal yang harus menjadi focus jalan keluar masalah ini.

Pertama, kasus PT Karapoto ini sudah memenuhi unsur pidana. Kedua, para nasabah bisa memproses hukum dengan menggugat secara perdata ke pengadilan. Dan yang ketiga penyelesaiannya diselesaikan secara kekeluargaan.

Sayangnya, para nasabah sendiri masih menginginkan uang mereka kembali. Karena itu, mereka menolak upaya hukum dan memilih penyelesaian secara kekeluargaan.

“Aspirasi yang kami peroleh dari nasabah, mereka menghendaki aspek hukum jangan dulu ditindaklanjuti. Jadi yang ditindaklanjuti sekarang itu adalah diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan. Itu kesimpulan rapat,” kata Mubin.

Dia menegaskan, dewan tidak bisa menjamin apakah masalah ini bisa diselesaikan atau tidak. Sebab dewan bukanlah lembaga eksekutor.

“Tapi kita berupaya semaksimal mungkin untuk selesaikan secara kekeluargaan. Dengan harapan semua beritikad baik. Kita butuh kesabaran, masyarakat, nasabah,” pintanya.

Dia juga meminta PT Karapoto kooperatif untuk duduk bersama mencari jalan keluar.

“Jangan berfikir kepentingan pribadi, kepentingan keluarga dan kelompok, tapi ini kepentingan bersama mari kita selesaikan,” tandasnya.

Sementara itu dari amatan Harian Halmahera kemarin, ratusan nasabah yang mengepung gedung dewan itu tampak emosi. Mereka ngotot meminta dewan, pemerintah dan Forkompimda mempercepat proses pembayaran uang yang dititipkan di Karapoto.

Bahkan, saking emosinya beberapa nasabah pun sempat berteriak histeris mengancam akan memboikot Pemilu 17 April mendatang.

“Kalau tara bayar, tong samua akan golput,” teriak salah satu nasabah kepada anggota Dekot Ternate yang menyaksikan aksi mereka.

Tak sampai disitu, usai hearing, massa juga sempat menghadang Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda, saat hendak turun dari tangga lantai dua dan hendak menuju ke mobilnya.

Dihadapan Kapolres, para nasabah yang didominasi ibu-ibu itu meminta Kapolres segera menahan Fitri.

“Ibu namanya siapa, kalau ibu mau saya tahan (Bos Karapoto), saya akan tahan,” jawab Kapolres setelah mendengar permintaan nasabah.

Sementara, dari data nasabah PT Karapoto yang beredar, tercatat nasabah di bawah 8 orang leader sebanyak 286 orang. Tootal modal yang diivestasikan mencapai Rp 190 miliar (persisnya Rp 190.037.378.675).

Dari ke delapan leader itu, nama Susanti Sidayat memiliki nasabah terbanyak, yakni 1.195 nasabah dengan total modal Rp 86 miliar (Rp 86.051.019.800).(eva/pur)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here