Hoaks Covid-19 Sebabkan Lebih Banyak Kematian

0
98

HARIANHALMAHERA.COM–TIDAK hanya kebenaran covid yang berbahaya. Hoaks tentang covid, ternyata juga berbahaya. Penelitian terbaru membuktikan, bahwa percaya pada hoaks terkait Covid-19 menyebabkan lebih banyak kematian, termasuk di Indonesia. Studi ini bahkan menemukan hoaks terkait virus corona di Indonesia merupakan salah satu yang terbanyak di dunia.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, penelitian yang baru saja dipublikasikan di American Journal of Tropical Medicine and Hygiene ini menunjukkan rumor, stigma, dan teori konspirasi terkait Covid-19 beredar dalam 25 bahasa di 87 negara yang diteliti.

Studi ini menganalisis rumor, stigma, dan teori konspirasi terkait virus corona yang diunggah ke media sosial, surat kabar, dan situs online pada rentang waktu 31 Desember 2019 hingga 5 April 2020.

Peneliti mendefinisikan rumor sebagai informasi yang belum diverifikasi kebenarannya, dibuat-buat, atau informasi yang salah. Sedangkan stigma terkait dengan diskriminasi suatu kelompok. Sementara teori konspirasi didefinisikan sebagai mengarahkan individu atau kelompok pada sebuah kepercayaan yang tak terbukti kebenarannya.

Para peneliti mengidentifikasi 2.311 laporan hoaks terkait Covid-19 dari 87 negara. Sebanyak 89 persen diklasifikasikan sebagai rumor, 7,8 persen teori konspirasi, dan 3,5 persen adalah stigma.

Beberapa contoh rumor diantaranya ‘telur unggas terkontaminasi virus corona’ dan ‘minum pemutih dapat membunuh virus’. Contoh stigma seperti penyakit datang dari China dan contoh teori konspirasi seperti ‘virus corona adalah senjata biologis yang didanai Bill & Melinda Gates Foundation untuk meningkatkan penjualan vaksin’.

Peneliti mendapati mayoritas hoaks itu berasal dari India, Amerika, China, Spanyol, Indonesia, dan Brasil. Analisis menunjukkan 24 persen hoaks itu terkait dengan penyakit Covid-19, kematian, dan penularan virus corona. Sebanyak 21 persen terkait dengan upaya pengendalian, 19 persen untuk pengobatan, dan 15 persen penyebab dan asal usul virus.

Peneliti menyatakan kesalahan informasi itu menyebabkan cidera dan kematian. “Menyusul kesalahan informasi ini, sekitar 800 orang telah meninggal, sedangkan 5.876 telah dirawat di rumah sakit dan 60 telah mengembangkan kebutaan total setelah minum metanol sebagai obat untuk virus corona,” tulis peneliti, dikutip dari CNN.

Peneliti menyadari studi ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti data yang berasal dari platform online sehingga diperkirakan lebih banyak informasi yang salah yang beredar di masyarakat.(cnn/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here