Penumpang Hilang Bertambah

Keluarga Korban Lempari Kapal Basarnas dengan Batu

0
102
Ilustrasi tenggelam (Foto : net)

HARIANHALMAHERA.COM–Kantor Basarnas Ternate menemukan adanya penambahan jumlah penumpang KM Cahaya Arafat yang hilang dalam insiden tenggelamnya kapal kayu tersebut di perairan Desa Tokaka, Gane Barat, Halmahera Selatan (Halsel).

Jika sebelumnya penumpang hilang dilaporkan sebanyak 12 orang, data terbaru bertambah menjadi 13 orang.

Kepala Basarnas Ternate, Fatur Rahman mengungkapkan, dari laporan awal  terdapat 76 orang yang berada di atas kapal nahas tersebut. Namun, setelah didata kembali, justeru bertambah 77 orang.  Dari jumlah 77 penumpang itu, 64 ditemukan dalam keadaan selamat. “Tersisa 13 orang yang masih dalam pencarian,”katanya.

Dari informasi yang didapat, di antara 13 penumpang hilang itu, dua diantaranya masih balita. Mereka teridentifikasi atas nama Afifa Kaysa M Kahar (3) dan Rahman (2). Keduanya ternyata tidak tercatat dalam manifest.

Sementara itu, pada hari kedua kemarin, pencarian ke 13 penumpang hilang oeh tim SAR gabungan, belum membuahkan hasil.

Bahkan, kedatangan tim SAR yang akan melakukan pencarian korban hilang pun mendapat sambutan tidak meneyangkan dari warga dan keluarga penumpang.

Dari rekaman video amatir yang diterima, KN Pandudewanata yang hendak berlabuh di pelabuhan Desa Tokaka diusir warga dengan dilempari batu hingga akhirnya kapal terpaksa kembali berlayar meninggalkan pelabuhan.

Warga menilai, Tim SAR lambat dalam penanganan musibah yang menimpa keluarga mereka. “Basarnas sudah datang terlambat dan saat ini keluarga korban yang hilang mendesak Basarnas untuk segera lakukan pencarian tapi tim Basarnas masih beralasan menunggu alat dari Bacan dan lain-lain sehingga memicu emosi masyarakat,” kata salah seorang warga.

Warga menghendaki pencarian keluarga mereka yang hilang itu, menggunakan alat penyelam. Sebab mereka menduga para korban yang belum ditemukan itu tenggelam bersama bangkai kapal ke dasar laut.

Fatur pun menyesalkan tindakan yang dilakukan warga ini. Walau begktu, saat ini operasi SAR masih tetap dilakukan tim gabungan dan Tim SAR Siaga Bacan menyiapkan alat penyelam untuk menuju ke lokasi kejadian.

“Kondisi saat ini yang terjadi adalah masyarakat tidak sabar sehingga terjadi insiden seperti itu, sedangkan dari kami Unit SAR Siaga Bacan telah menuju ke lokasi untuk melakukan pencarian,” tegasnya.

Tim juga masih menunggu kedatangan Aduadis, alat pendeteksi keberadaan korban yang akan didatangkan tim dari Basarnas Ternate. Diharapkan kepada keluarga korban untuk kerja samanya dalam pencarian korban yang sampai saat ini belum ditemukan,” pungkasnya

Fahthur menambahkan, dalam melakukan pencarian korban hilang ini, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI/Polri dan Potensi SAR , dibagi dalam empat Sru, Setiap sru melakukan pencarian di area masing-masing yang telah dibuat.

Sru 1 melakukan pencarian seluas 8.7 Nm dari lokasi tenggelamnya lapa dengan menggunakan Sea Rider KN. Pandudewanata. Sru 2 melakukan pencarian seluas 11.6 Nm dari LKP dengan menggunakan Rubber Boat Unit Siaga Sar Bacan.

Sru 3 melakukan pencarian seluas 9.7 Nm dari LKP dengan menggunakan Speed Boat BPBD Halsel, dan Sru 4 melakukan pencarian seluas 15 Nm di pesisir perairan desa Tokaka dengan menggunakan long boat masyarakat.

Sementara itu Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelebuhan (KSOP) Kelas II Ternate,  menemukan ada pelanggaran izin berlayar yang dilakukan KM Cahaya Arafah.

Sebab, sesuai surat persetujuan berlajar (SPB) rute KM Cahaya Arafah, adalah Pelabuhan Bastiong hingga pelabuhan Desa Samo, Gane Barat Utara, Halsel. Namun, di lapangan kapal justeru berlayar hingga ke Desa Tokaka.

Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Ternate, Miraza A. Polpoke mengatakan, jika keberangkatan kapal sebatas di Desa Samo lalu kapal  melanjutkan perjalanan, itu berarti SPB yang dikeluarkan tak lagi berlaku mengingat kapal telah tiba di tujuan berlayar.

“Namun tengelamnya kapal itu, sudah dari Desa Samo ke Tokaka. Kami tidak bisa lacak karena apakah diberikan SPB atau tidak ini masih menjadi tanda tanya,” terangnya.

Ia juga mengaku KM Cahaya Arafah hanya berkapasitas penumpang 120 orang. Kemudian saat itu, kapal diberangkatkan dari Pelabuhan Bastiong pukul 09:30 WIT, dengan manifest penumpang sebanyak 66 orang yang ditandatangani langsung oleh nahkoda kapal.

Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan, KSOP Kelas II Ternate Muhlis Junaidi menambahkan, SPB KM Cahaya Arafah diterbitkan sebelum ada peringatan dini dari BMKG.

“Yang kami pastikan kapal ini tidak melebihi kapasitas, jadi masih layak berlayar. Surat persetujuan berlayar keberangkatan (SPBK) dari Ternate ke Samo tiba pukul 16:45 WIT dan kapal tenggelam di perairan laut Tokaka, kami tidak ketahui. Sebab, itu sudah masuk wilayah KSOP Halsel,” tambahnya.(par/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here