Haji Itu di Arafah

0
911
Ilustrasi : Suasana Wuquf di Arafah Musim Haji beberapa tahun lalu (Foto : Net)

Oleh: Salim Taib, SAg, MSi
Wakil Ketua Bidang Idiologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan Maluku Utara

 

 

PERTANYAAN yang selalu menggugah kesadaran penulis adalah soal kenapa haji dianggap sah jika dilakukan di padang arafah dan termasuk bagian dari rukun  haji? yang tidak bisa ditinggalkan, meninggalkan arafah, haji seseorang dianggap tidak sah. Dan apa sesungguhnya arafah itu? Apakah arafah itu hanyalah sebuah bukit yang kosong maknanya?

Ataukah melampaui makna simbolisme dari sekedar sebuah bukit, pertanyaan-pertanyaan demikian sampailah pada satu titik dimana Rasulullah  Muhammad Saw menegaskan dalam sabdanya, “Alhajju Arafah” (haji itu di arafah), pada sabda Nabi inilah penulis mencoba mengartikan makna arafah sehingga narasi haji itu di arafah tidak hanya sekedar perwujudan menunaikan rukun haji belaka.

Arafah pengertiannya berasal dari akar kata “arafa-ya’rufu-irfah” dan irfah secara etimologis berarti mengetahui dan mengenal. Dari kata ini terbentuk beberapa kata lainnya, seperti kata “arif” (orang yang bijaksana), ma’ruf (kebajikan), ma’rifat (pengetahuan yang mendalam tentang Tuhan), ta’aruf (saling mengenal), dan kata ‘urf (adat kebiasaan).

Pengertian arafah dengan berbagai derivasinya dalam al-Qur’an disebut sebanyak tuju puluh satu kali, jika arafah yang dimaksudkan sebuah nama tempat berupa padang pasir di dekat kota makka disebut satu kali sebagaimana pada surat al-Baqarah Allah menjelaskan “Tiada mengapa jika kamu mencari karunia Tuhanmu selama musim haji, maka apabila kamu tekah turun dari arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril haram, dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana ditunjukkan-Nya kepada kamu, meskipun sebelum itu kamu termasuk golongan yang sesat” (Qs. al-Baqarah: 198)Penyebutan arafah dalam ayat diatas disebut secara jamak ‘arafat’.

Menurut al-Qumi An-Naisaburi, bahwa penyebutan secara jamak dan tunggal keduanya merupakan isim alam (nama benda), sedangkan al-Khazin menjelaskan bahwa arafah secara jamak “arafat” menunjukan arti tempat, sedangkan penyebutan secara tunggal menunjukan hari yaitu hari arafah tanggal 9 Zulhijjah.

Begitu banyaknya pengertian dan makna yang dikandung dalam kata arafah, penulis menarasikan dalam perspektif pengertian “mengenal, memahami” hal ini dimaksudkan mencari titik sambung makna antara perjalanan ibada haji dan keterkaitannya dengan mengenal serta memahami itu sendiri.

Mengutib penjelasan Dr. Ali Shariati dalam karyanya “Haji” mengatakan bahwa sesungguhnya hakekat haji di arafah itu adalah sebuah evolusi manusia menuju Allah, haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan Adam. Untuk lebih menjelaskan hal ini kita dapat mengatakan bahwa di dalam penunaian ibadah haji berbagai hal dipertunjukkan secara bersamaan yakni “penciptaan’ sejarah’ keesaan’ idiologi Islam dan ummah”.

Berhenti untuk merenung, berhenti untuk mengenal (wukuf di arafah), mengenal pada siapa? Di arafah semua hamba dari berbagai entitas, dari berbagai lapisan, kaya dan miskin, berpangkat dan tidak berpangkat, penguasa atau rakyat semuanya sama yang datang dari bebagai pelosok dunia saling mengenal dan menyatu, laksana muktamar manusia muslim sedunia, disini pulalah nilai-nilai egalitarianisne Islam tampak, sebagaimana Nurcholis Madjid menjelaskan menurut al-Qur’an memang manusia itu semuanya sama.

Kesamaan semua manusia pada saat wukuf di arafah dengan melepaskan baju yang menjadi pembeda antara satu dengan yang lainnya semuanya menggunakan pakaian ihram berwarna putih dan tidak dijahit dapat menihilkan pandangan bahwa orang lain lebih rendah dari dirinya, hanya karena warna kulit, asal-usul tempat kelahirannya, bentuk tubuh dan sejenisnya.

Rasisme sebagai bentuk “meng-aku-kan aku, melepaskan ke-kami-an adalah dosa pertama yang pernah di lakukan mahkluk yakni ketika iblis menolak sujud ke pada Adam, hanya karena sebuah alasan materi penciptaan Adam lebih hina karena berasal dari tanah sedangkan Iblis materi penciptaannya dari api, memahami, mengenal persamaan-persamaan manusia dihadapan Allah benar-benar terjadi saat berhenti (wukuf) di arafah.

Penunaian ibadah haji puncak keshahehan pelaksanaannya di arafah yang memberi gambaran akan eksistensi kedirian manusia dalam perspektif penciptaannya, sehingga haji yang di arafah itu adalah sebuah penjelasan simbolisme, yang bisa diketahui makna terdalamnya, jika kita mentafakkurkan diri adam secara benar. Artinya pelaksanaan haji haruslah dileletakkan pada konteks kesadaran untuk memahami perjalanan diri yakni dari mana asal-usul diri ini dan hendak pergi kemana nantinya, sehingga manusia benar-benar insyaf bahwa diri ini adalah kepunyaan Allah dan akan kembali pulang kepada-Nya.

Atau dengan ungkapan lain kesadaran meng-Innalilahi wainna ilaihi raji’un terhadap diri sendiri, sehingga dalam derap langka pemenuhan haji di arafah itu adalah kesadaran mau berjumpa dengan Sang Pencipta, yang oleh Dr. Ali Shariati mengemukakan bahwa ketetapan wuquf di arafah dimaksudkan agar manusia memperolah kesadaran, wawasan, kemerdekaan, pengetahuan dan cinta disiang hari ‘arafah melambangkan awal penciptaan manusia, perjalanan manusia dari Makkah pergi ke ‘Arafah adalah perjalanan Innalillahi (sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah ) dan setelah itu dari ‘Arafah kembali ke Ka’bah “Wainna Ilaihi Raji’un” (dan kepada-Nya lah kita akan kembali).

Haji yang di arafah itu adalah sebuah gerakan diri untuk pergi menemui sang pemilik Cinta, gerak pergi berjumpa dengan sang Maha Mutlak, dan gerakan kembali pulang menemui sang Maha Mutlak pula, oleh karena itu mungkin penjelasan yang tertulis dalam “Lefo”.

Lefo adalah sebuah catatan ilmu yang ditulis dalam buku dan menjadi pegangan sang murid, jika ditelisik dalam catatan lefo para Joguru di kampong-kampong hendak memposisikan ibadah Haji di arafah itu atau keseluruhan yang menjadi rangkaian pelaksanaan haji mulai dari miqad untuk menyatakan niat hingga puncaknya di ‘arafah berakhir di Mina adalah struktur jasad manusia yang dicerai beraikan, berdasarkan penempatan tempatnya masing-masing, sehingga mereka (joguru) sering mendefenisikan perjalanan ibadah haji adalah mencocokkan struktur tubuh yang ada pada diri manusia.

Penjelasan lain mereka bahwa haji adalah memperjumpakan struktur tubuh diri manusia yang dimulai dari kaki hingga kepala dan dari kepala hingga kaki, bukankah ini yang dimaksud oleh Ali Shariati bahwa haji itu sebuah proses perjalanan penciptaan diri Adam.

Kalau begitu dari penjelasan tersebut diatas setiap diri yang melaksanakan ibadah haji sejatinya memulai dengan kesadaran untuk mema’rifati, mengenal bahwa diri ini hanyalah kepunyaan Allah dan kita bergerak berjumpa dengan penuh keihlasan dengan-Nya, serta satu saat nanti akan kembali pulang baik dalam keadaan suka, keadaan duka, keadaan benci serta ridha adalah sesuatu yang pasti.

Disetiap kerelaan manusia yang berjalan menemui dan menghampiri Allah dalam perjalanan haji hendaklah dimulai dengan mengenal diri “man arafah nafsahu faqad arafah rabbahu” barang siapa mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya, karena ketika telah mengenal lalu Allah memerintahkan setiap orang yang mengerjakan haji supaya berzikir (mengingat) kepada Allah apabilah bertolak dari padang ‘Arafah menuju Muzdalifah.

Bulan ini bulan melafadzkan dzikir Labbaikallahumma Labbaik, labbaikallah syarikalakalabbaik. Kita doakan yang menunaikan ibadah haji tahun ini mendapatkan haji mabrur. Amin.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here