Haji, Makrifat, dan Kemanusiaan

0
769
Ilustrasi, Jamaah Haji

Oleh: Fajar Kurnianto
Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta

 

CALON jemaah haji sudah mulai diberangkatkan secara bertahap dari Tanah Air. Sebagian menuju Madinah dan sebagian lagi menuju Mekah. Mereka kemudian akan bertemu dan berkumpul di Padang Arafah, melaksanakan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji pada 9 Zulhijah.

Kata Nabi, “Haji adalah Arafah”. Menurut ketentuan Islam, orang yang tak melakukan wukuf di padang tersebut pada waktu itu dianggap tak berhaji dan mesti mengulangi di tahun depan.

Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam bukunya Al-Hajj Al-Mabrur, menggambarkan bagaimana kedatangan para calon jemaah haji yang dipenuhi kerinduan kepada Tuhan, “Datangnya musim haji pada setiap tahun membuat hati dipenuhi kerinduan untuk pergi ke Baitullah guna melaksanakan ibadah haji dan menziarahi kubur Rasulullah karena di situ ada kenikmatan ruhiyah yang melebihi apa pun.

Misalnya, taqarub (pendekatan diri) kepada Allah dan kesibukan dengan-Nya daripada dengan makhluk lainnya, baik itu keluarga, kerabat, atau yang lainnya.”

Dimensi ritual spiritual memang sangat kental dalam laku ibadah yang merupakan warisan dari Nabi Ibrahim, diteruskan masyarakat Arab dari generasi ke generasi hingga kemudian dikukuhkan Nabi Muhammad SAW sebagai bagian dari pilar Islam selain syahadat, salat, zakat, dan puasa.

Berbagai laku dalam rangkaian manasik haji, dari memakai pakaian ihram hingga selesai haji yang diakhiri dengan tahalul berupa mencukur rambut, lalu diteruskan dengan berkurban di hari raya Idul Adha, sarat dengan simbol yang punya makna spiritual mendalam.

 

Simbol dan Makna

Arafah, misalnya, berakar dari kata ‘arafa yang juga menjadi akar dari ma’rifah (makrifat) dalam ajaran tasawuf. Di tempat ini semua jemaah berkumpul, diam sesaat, tak hanya untuk berdoa dan berzikir, tetapi juga untuk mengenal Allah (ma’rifatullah).

Melalui wukuf di Arafah, orang-orang didorong untuk mencapai maqam (level) makrifat. Menurut al-Ghazali, makrifat ialah ilmu (pengetahuan) yang tidak diiringi keraguan lagi atau pengetahuan yang mantap dan mapan yang tak tergoyahkan  siapa pun dan apa pun; ia ialah pengetahuan yang telah mencapai tingkat haqqul yaqin (sangat meyakinkan). Secara definitif, kata sang Hujjatul Islam ini, makrifat ialah terbukanya rahasia-rahasia ketuhanan dan tersingkapnya hukum-hukum Tuhan yang meliputi segala sesuatu.

Makrifat menurut al-Ghazali ialah tujuan akhir yang mesti dicapai manusia sekaligus merupakan kesempurnaan tertinggi yang di dalamnya terkandung kebahagiaan hakiki. Pengetahuan ini, menurutnya, tak diperoleh melalui akal ala saintis atau filsuf, tetapi melalui hati (qalb).

Konsepnya yang terkenal ialah ‘siapa yang mengenal hatinya, berarti ia mengenal dirinya; siapa yang mengenal dirinya, berarti ia mengenal Tuhannya’. Namun, untuk ini hati mestilah bersih dari segala kotoran yang diakibatkan dosa dan maksiat. Untuk mencapai makrifat, hati mestilah bersih. Dalam konteks haji yang puncaknya ialah di Arafah, upaya untuk mencapai makrifat inilah dilakukan hingga seseorang berada di maqam puncak.

Makrifat ialah puncak pencapaian spiritual tertinggi manusia, tetapi ini baru pada tataran individual. Haji tak hanya penuh dengan simbol-simbol spiritual individual, tetapi juga sosial. Setelah wukuf, sehari setelahnya (10 Zulhijah) ialah menyembelih hewan kurban yang dagingnya diberikan kepada orang-orang, terutama yang membutuhkan.

Artinya, setelah berada di puncak, ia kembali ke meminjam judul roman Pramoedya Ananta Toer Bumi Manusia, tanah tempat berpijaknya, berbaur kembali bersama manusia lain dengan segala kompleksitas dan problem-problem sosialnya untuk mengimplementasikan nilai-nilai makrifat khususnya dan umumnya nilai-nilai ritual haji yang bersifat sosial.

Dari puncak makrifat individual turun ke tingkat sosial kemanusiaan dengan menebarkan kesalehan sosial, seperti kepedulian, empati, simpati, cinta, kasih sayang, persaudaraan, dan seterusnya kepada siapa pun atau apa pun tanpa memandang perbedaan.

Juga menebarkan kedamaian; tidak membuat kerusakan, menciptakan permusuhan, pertikaian, permufakatan jahat, dan seterusnya. Juga menjaga lisan; tak menebarkan ujaran kebencian, fitnah, hoaks, kebohongan, janji-janji palsu, dan seterusnya.

Inilah yang disebut Nabi sebagai haji mabrur. Haji yang tak hanya sempurna dari sisi ritual, tetapi juga efek nyatanya setelah haji dalam perilaku sehari-hari. Haji mabrur, kata Nabi dalam hadisnya, ialah haji yang membuat seseorang menjadi gemar memberi makan, menebarkan kedamaian, dan memperbagus ucapan.

Nilai persaudaraan yang diambil dari ibadah haji, misalnya, dikatakan Malcolm X, aktivis muslim kulit hitam Amerika yang telah mengubah hidupnya sekaligus sebagai kritik terhadap masyarakat Amerika yang diskriminatif terhadap kulit hitam, “Ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia.

Mereka terdiri dari berbagai warna kulit, dari si pirang bermata biru sampai si hitam dari Afrika. Namun, kami semua mengikuti ritual yang sama, memperlihatkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang dari pengalaman saya di Amerika membuat saya mengira tidak akan pernah terjadi di antara kulit putih dan bukan kulit putih.” (Malcolm X, surat dari Mekah, April 1964)

Haji menjadikan manusia selain saleh secara individual juga sosial. Haji mendorong pelakunya untuk menghormati, memuliakan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal yang saat ini kerap tergerus kepentingan sektarian dan partisan, yang ironisnya dibungkus dengan jargon-jargon keagamaan.

Hanya karena berbeda pandangan, keyakinan, dan pilihan politik, kebenaran dan jalan keselamatan dimonopoli, kemudian dipaksakan kepada orang lain. Etika dan keadaban publik juga dicampakkan ke tong sampah. Sementara itu, fanatisme buta meningkat pesat.

Nilai-nilai kemanusiaan, seperti persaudaran, kebersamaan, keakraban, cinta dicabik-cabik dan dicincang hingga menjadi potongan-potongan kecil yang masing-masing menonjolkan identitas yang berbeda jika dibandingkan dengan mengedepankan persamaan.

Haji ialah salah satu ikhtiar atau jalan untuk mereformasi diri pikiran, hati, perasaan hingga bertransformasi menjadi manusia saleh dan bijak, bukan perusak atau penghancur peradaban. Bumi manusia ialah tempat untuk menyemai dan menebarkan kebaikan hingga melahirkan peradaban unggul yang membawa kemaslahatan bagi semuanya.(*)

Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/250188-haji-makrifat-dan-kemanusiaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here