Orangtua Protes Keputusan Panitia Paskibraka Provinsi

0
484
Ilustrasi peserta pelatihan dan seleksi Paskibraka. (foto: grid.id)

HARIANHALMAHERA.COM— Dua nama sudah diputuskan panitia seleksi Paskibraka yang akan mewakili Maluku Utara (Malut) untuk mengikuti seleki tingkat nasional. Namun, di balik keputusan itu ada dugaan ketidakberesan dalam proses seleksi.

Hal ini diketahui dari protes yang dilakukan orangtua salah satu peserta seleksi Paskibara yang bernama Nurlia. Mereka menilai ada yang tidak wajar dengan keputusan tidak diloloskannya salah satu siswi SMA di Ternate tersebut.

Gani Musa, ayah dari Nurlia kepada koran ini mengisahkan, pada seleksi awal Paskibaraka yang melibatkan 60 peserta hingga ke tahapan lima besar, putrinya selalu lulus seleksi.

Kejanggalan mulai muncul saat Nurlia lolos ke tiga besar sekaligus penentuan dua nama yang akan mengikuti seleksi di Pusat. Oleh panitia justru menyatakan putrinya tidak lolos karena tidak memenuhi syarat tinggi badan,

“Katanya tinggi badan anak saya kurang dua centi (cm),” sebut Gani.

Gani menyebut, sesuai ketentuan syarat tinggi badan untuk Paskibraka 166 centimeter, sementara tinggi badan putrinya 167 centimeter. Namun, yang bikin dia merasa janggal, alasan panitia yang tidak meloloskan putrinya karena dinilai ukuran tinggi badan Nurlia tidak memenuhi syarat,

Padahal putrinya sudah lolos dan masuk tiga besar. Sementara seleksi ukuran tinggi badan dilakukan sejak awal seleksi Parkibraka dibuka, bukan di tiga besar.

“Pengukuran tinggi badan sudah selesai, kok sekarang bilangnya kurang dua centi,” ucapnya.

Yang anehnya lagi menurut Gani, putrinya didatangi panitia sekira pukul 03.00 dinihari, beberapa jam sebelum upacara pelepasan untuk melakukan pengukuran kembali tinggi badan.

Dari situlah, Nurlia dinyatakan tidak lolos ke seleksi paskibraka Nasional dengan ukuran tinggi badannya kurang dua centimeter.

“Panitia datang kasih bangun saya pe anak untuk ukur tinggi badan ulang dan hasilnya dong bilang kurang dua senti,” terang Musa.

Sudah begitu, dalam pengukuran ulang bersama dua siswa lainnya yang lolos ke tiga besar pun  mencurigakan.

“Peserta dari Halut disuruh masuk ke ruang pengukuran sendiri, sedangkan dari Ternate tidak diperbolehkan masuk. Ini ada apa, kenapa harus demikian,” kesalnya.

Dari kejadian ini, dia menilai ada upaya untuk mencari celah menggugurkan putrinya yang sudah lolos dalam semua tahapan mulai dari ukuran tinggi badan, psiko, penguasaan bahasa daerah dan bahasa inggris.

“Kita orangtua tidak puas kalau panitia mengatakan bahwa anak saya tidak lolos karena ukuran, ini sangat tidak masuk akal. Banyak kejanggalan yang dilakukan panitia seleksi provinsi,” terangnya.

Dia meminta ada evaluasi yang dilakukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) selaku pihak yang bertanggungjawab atas seleksi paskibraka atas kinerja Panitia Seleksi tingkat Provinsi.(lfa/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here