Survei LSI Denny JA Dikritik, Dinilai Tendensius dan Berbahaya

0
433
RILIS: Dua peneliti LSI Denny JA saat memaparkan hasil survey bertajuk 'Pergeseran Sentimen Agama Setelah 6 Bulan Kampanye'. (foto: breakingnews.co.id)

HARIANHALMAHERA.COM— Lembaga survey milik Denny JA, LSI, kembali dikritik. Namun kali ini tidak terkait prosentase suara kedua capres. Melainkan materi survei orientasi politik pemilih muslim di Indonesia, dengan tajuk ‘Pergeseran Sentimen Agama Setelah 6 Bulan Kampanye’.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menilai survei LSI Denny JA cenderung berbahaya dan bersifat adu domba. Survei itu tak masuk akal dan bersifat tendensius.

“Siapa yang mau jadi Timur Tengah, orang negara bubar. Ini kan otaknya kayak enggak masuk gitu loh. Ini negara enak di sini, masa kita, ‘wah enak nih tinggal di negara bubar’. Gimana sih itu orang, kan pakai akal aja dong,” ujar Fahri saat ditemui di kompleks parlemen, Rabu (6/3), melansir CNNIndonesia.com.

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, juga mengaku tidak terima dengan hasil survei LSI Denny JA.

“Anda lihat cara mereka melakukan segmentasi, pembelahan dan framing yang dilakukan. Ini framing rasial dan itu berbahaya,” kata Dahnil ditemui di Jakarta, Rabu (6/3), mengutip indopos.co.id.

Dia menanyakan urgensi survei LSI Denny JA atas topik pemilih Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ingin Indonesia seperti negara Timur Tengah.

“Denny JA ini melakukan survei untuk mempersatukan Indonesia atau memecah belah Indonesia? Itu berbahaya,” ungkap mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah itu.

Dia menegaskan, pasangan capres-cawapres 02 melaksanakan kampanye dengan santun. Tidak pernah menggunakan politik pecah belah.

“Kalau anda perhatikan selama kampanye, Pak Prabowo dan Bang Sandiaga tak pernah gunakan diksi rasial. Selalu digunakan diksi ekonomi dan pembangunan,” tegas dia.

Sebelumnya, survei terbaru LSI Denny JA mendapati, selama kurun waktu enam bulan dukungan terhadap Prabowo-Sandi lebih unggul pada segmen pemilih Muslim yang orientasi politiknya menilai Indonesia harus seperti Timur Tengah atau Arab, yakni 54,1 persen.

Dibandingkan dengan survei sebelumnya pada Agustus 2018 kala itu pendukung Prabowo dari pemilih Muslim ingin Indonesia bak Arab berada di kisaran 39,6 persen. Sementara di kubu pasangan petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin, pemilih Muslim yang menilai Indonesia harus seperti Timur Tengah atau Arab ada 45,9 persen.

Secara umum survei itu menyebut Jokowi-Ma’ruf mendapat dukungan sebanyak 58,7 persen. Jauh meninggalkan pasangan Prabowo-Sandi yang meraih dukungan sebanyak 30,9 persen. Sementara pemilih yang menyatakan rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebanyak 9,9 persen.

Survei itu dilakukan pada 18-25 Februari 2019. Survei melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia dengan metode multistage random sampling.(cnn/ind/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here