Dari Ngobrol Pendidikan, PGSD UNIERA dan KAGAMA HALUT: Dorong Paradigma Berpikir Kreatif dan Pererat Kerjasama

0
112
DISKUSI: Dosen PGSD Uniera, Ketua dan pengurus Kagama Halut, OKP, guru-guru, dan mahasiswa foto bersama usai ngobrol ilmiah di ruang rapat Fredy Tjandua, Selasa (31/5). (foto: Istimewa/Kagama Halut)

HARIANHALMAHERA.COM– Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Halmahera (Uniera) yang berkolaborasi dengan Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada (Kagama) Kabupaten Halmahera Utara memberikan perhatian besar terhadap pendidikan pasca pandemi covid-19. Lewat ngobrol ilmiah yang digelar sebagai wujud kolaborasi antara PGSD Uniera dengan Kagama Kabupaten Halut, Selasa (31/5), banyak catatan penting yang harus dilakukan oleh semua stakeholder pendidikan.

Ngobrol ilmiah yang juga bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halut, bermuara pada upaya mencari solusi perbaikan dunia pendidikan usai dihantam badai pandemi. Hal ini sesuai dengan tema, ‘Menatap Wajah Pendidikan di Kabupaten Halmahera Utara Pasca Covid-19’.

Ngobrol ilmiah tentang pendidikan dibuka oleh Rektor Uniera yang diwakili Wakil Rektor II, Dr Jerizal Petrus M.Pd yang juga hadir sebagai pembicara. Kegiatan ini juga menghadirkan pembicara Ganjar Pranowo selaku Ketua Kagama Pusat. Sekda Halut Erasmus J Papilaya yang juga adalah ketua Kagama Halut. Hertje Manuel, S.Pd,. Kepala Dinas Pendidikan. Dr. Alice Wote, M.Pd, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta Erland Mouw, S.IP.,M.PA, Dosen Universitas Halmahera sekaligus sekretaris Kagama Halut.

Dalam penyampaian materinya, Dr. Jerizal Petrus menyampaikan bahwa “Sebagai perguruan tinggi yang terakreditasi baik sekali, Uniera terus memberikan perhatian penuh terhadap dunia pendidikan di Kabupaten Halut, terutama pendidikan di masa pandemi dan pasca pandemi. Inilah yang mendasari gagasan untuk menyelenggarakan dialog guna mendapatkan solusi terbaik dalam merancang metode-metode pendidikan pasca covid-19, PGSD Uniera siap menjadi pilar utama dalam mendukung perkembangan pendidikan di Halut melalui literasi digital dan literasi sumber daya manusia,”

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Halut Erasmus J. Papilaya, menyambut baik gagasan Uniera untuk menatap pendidikan masa depan, khususnya di Kabupaten Halut pasca pandemi. Mewakili pemerintah, Papilaya sangat berharap Uniera akan terus bersama pemerintah untuk mengembangkan pendidikan di Halut.

“Harus diakui, selama pandemi proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di setiap sekolah di Halut tidak maksimal. Pertemuan guru dan siswa hampir dua minggu sekali. Pembelajaran secara online membuat siswa tidak lagi menemukan gurunya,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Halut Erasmus J. Papilaya.

“Pasca Covid-19 ini setiap guru harus memberikan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Apalagi saat ini kita baru memasuki tahun yang bebas dari Covid, sehingga proses PTM di sekolah juga sudah mulai normal, maka kami hanya meminta agar guru-guru memberikan inovasi baru terhadap siswa,” pinta Papilaya yang juga Ketua Kagama Kabupaten Halut.

Tidak hanya soal kualitas pendidikan, Papilaya juga menekankan soal infrastruktur pendidikan. “Ruang kelas yang sudah jarang terpakai saat pandemi, sekarang ini sudah harus dibersihkan, agar siswa tidak mudah diserang penyakit. Cuci tangan dan menjaga kebersihan, penting untuk diingatkan terus guru kepada muridnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kagama Pusat, Ganjar Pranowo ikut hadir lewat aplikasi zoom, Ganjar mengatakan covid memaksa orang untuk berubah. Otak manusia dipaksa untuk berpikir, sehingga paradigma manusia harus digeser. Tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia.

“Kesulitan pada masa pandemi menginisiatif lahirnya ide-ide kreatif untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan sekolah melalui Gerakan pemberian bantuan gadget dan laptop bagi anak-anak yang kurang mampu. Gerakan ini tentu saja memiliki spirit kemanusiaan yang adil dan beradab,” terangnya

Atas dasar kemanusiaan inilah, lanjut Ganjar,  Kagama hadir dan memliki banyak cerita di seluruh dunia. Kesulitan pada masa pandemi akhirnya memaksa manusia dan dunia untuk ikut berubah, seperti politik pun ikut berubah, bahkan kebijakan dalam beribadah juga berubah, serta politik pendidikan juga berubah termasuk tenaga pendidik juga ikut berubah.

“Kalau sebelumnya orang-orang mengatakan tidak bisa menggunakan teknologi, maka setelah covid semua orang kini telah mampu menggunakan teknologi. Yang mau saya sampaikan adalah, jangan terus menerus menggunakan cara yang lama, jangan terus membaca buku yang lama sebab masih banyak buku baru yang belum dibaca,” pesannya.

Selanjutnya. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Uniera Dr. Alice Yeni Verawati Wote MPd, menggarisbawahi bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya disandarkan pada satu pihak saja. Menurutnya, pendidikan harus dibangun melalui kerjasama semua pihak yang saling menopang.

“Terutama dari 3 pilar pendidikan, yaitu siswa, sekolah, dan masyarakat. Sehingga dengan kerjasama ini, diharapkan dapat menciptakan sebuah ikatan yang kuat untuk sama-sama membangun pendidikan yang berkualitas di Halut,” terangnya.

Sementara itu, Erland Mouw., S.IP.,M.PA, Dosen ADN yang juga Sekretaris Kagama Halut, lebih menyoroti soal kebijakan pendidikan yang diatur dalam aturan perundangan. Menurutnya kebijakan Pendidikan hendaknya melihat pemberdayaan Lembaga pendidikan, relevansi lulusan dengan dunia kerja, akuntabilitas pendidikan, serta menyiapkan teknologi penunjang pendidikan.

Terkait pendidikan di Halut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Halut Manuel Hertje mengatakan, rekapitulasi kependidikan bersertifikasi seperti TK sebanyak 16, SD sebanyak 277, SMP sebanyak 123, dan pengawas sebanyak 13 terbilang masih sangat kurang. “Jika disandingkan dengan jumlah guru, data ini terbilang masih sedikit, sekitar 22 persen,” ujarnya.

Kemudian, terkait arah kebijakan dan program peningkatan mutu pendidikan, Manuel menyebut dibagi dalam empat bagian, yakni kualitas pendidikan, ketersediaan sarana prasarana, prestasi siswa, dan kurikulum. “Yang sekarang menjadi trend, yaitu merdeka belajar,” ungkapnya.

Soal kualitas pendidikan, dia menyebut ukurannya adalah assesment sebagai pengganti ujian nasional. “Assement sudah dilakukan pada tahun kemarin, tetapi data aslinya sampai sekarang belum dikantongi. Kami berharap dalam waktu dekat hasilnya sudah bisa dikirimkan, sehingga kami dapat mengetahui seperti apa kualitas mutu pendidikan kita di Kabupaten Halut,” katanya.

Manuel sepakat bahwa keterampilan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi pada mutu pendidikan perlu ditingkatkan. Sebab pada masa pandemi semua ikut berubah, termasuk juga sistem pembelajaran secara daring. “Banyak sekali kendala yang dihadapi dalam sistem pelajaran secara daring, baik itu fasilitas, ketersediaan tenaga pendidik dalam hal ini penguasaan terhadap penggunaan peralatan IT,” sebutnya.

“Ke depan kita akan melakukan pelatihan penggunaan aplikasi pada bidang pendidikan, kemudian bimbingan teknis peningkatan kapasitas bidang pendidikan,” sambungnya.

Dia juga menyebut, Disdikbud Halut akan memperhatikan ketersediaan sarana pendidikan, seperti ruang belajar, perpustakaan, peralatan pendidikan, buku, komputer, mobiler ruang kelas dan juga tak kalah penting, peralatan belajar untuk siswa kurang mampu.

“Sebab pasca pandemi banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan dari jenjang satu ke jenjang lainnya. Setelah kami melakukan penelusuran ternyata terkait dengan masalah biaya, sehingga perlu memprioritaskan pengadaan perlengkapan bagi siswa kurang mampu,” ujarnya.

Soal kurikulum, Manuel menyebut kedepannya akan dimulai diterapkan kurikulum merdeka belajar. Dengan catatan yang diutamakan adalah sekolah yang mengikuti program sekolah penggerak. “Di tahun ini ada untuk jenjang SD sampai tingkat SMP sebanyak 15 dan SMA sebanyak 3 sekolah sudah di seleksi. “Kami berharap tahun depan sudah bisa di laksanakan program sekolah penggerak dan diwajibkan menggunakan kurikulum merdeka belajar. Ditambah penerapan kurikulum muatan lokal berbasis bahasa daerah, di mana untuk Kabupaten Halut terdapat dua bahasa daerah, yaitu bahasa Tobelo dan Galela,” jelasnya.

Diketahui, dalam pengembangan pendidikan di lokal kabupaten, PGSD Uniera sejauh ini sudah banyak melakukan terobosan. Mulai dari riset yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa, pendampingan masyarakat, maupun penyediaan sarana dan prasarana Pendidikan serta Sumber daya manusia yang kompeten untuk bersama memajukan Pendidikan di Halut.(cw/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here