HARIANHALMAHERA.COM– beberapa hari setelah ditunjuk oleh Kapolri, menjabat sebagai Kapolda Maluku Utara (Malut), namun Brigjen Pol. Arif Budiman, langsung dapat desakan dari Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Malut di Jakarta untuk tuntaskan sejumlah perkara urgensi yang ditinggalkan mantan Kapolda, terutama peristiwa dugaan pembunuhan di hutan Banemo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng)
Sebab, tragedi berdarah di hutan Banemo tersebut dianggap Formapas Malut bahwa masih terkesan lemah dalam penguusutan dalangnya oleh kepolisian, sehingga warga setempat pun masih terus dihantui rasa takut saat berkativitas di kebun, menyusul baru-baru ini salah satu kebun warga tiba-tiba dirusaki tanamannya oleh orang tak dikenal (OTK).
Tak tanggung-tanggung, ketua Pengurus Pusat (PP) Formapas Malut di Jakarta, Riswan Sunan, pun meminta Kapolda Malut yang baru, Brigjen Pol. Arif Budiman, menjadikan kasus tragedi hutan Banemo tersebut sebagai perhatian serius sekaligus PR utama yang harus diselesaikan.
“Pergantian kepemimpinan di Polda Maluku Utara harus menjadi momentum untuk memulihkan rasa aman masyarakat yang belakangan ini dihantui dengan berbagai kasus pembunuhan yang misterius di kawasan hutan dan perkebunan Pulau Halmahera, yaitu dugaan pembunuhan di huban Desa Banemo, Kabupaten Halmahera Tengah,”katanya, Senin (11/5).
“Tentu ini juga jadi kado sekaligus PR besar buat Kapolda baru, masyarakat hari ini hidup rasa takut, karena ada kasus pembunuhan oleh OTK, namun belum diungkap secara tuntas,”sambungnya.
Peristiwa Pulau Halmahera lanjutnya, tentu negara tidak boleh kalah oleh pelaku-pelaku kriminal yang telah mengancam nyawa dan keselamatan warga di Haltim dan Halteng. “Warga yang sehari-hari beraktivitas di kebun maupun kawasan hutan kini merasa tidak aman karena khawatir menjadi korban berikutnya,”ujarnya.
Riswan menegaskan bahwa kasus tersebut bukanlah kejadian tunggal. Sebab pembunuhan misterius di kawasan hutan Halmahera sudah berulang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum menunjukkan perkembangan penanganan yang signifikan.
“Situasi ini tidak bisa dianggap biasa. Ketika kasus demi kasus terus terjadi tanpa kejelasan pengungkapan, maka yang muncul ketakutan publik, hilangnya kepercayaan terhadap aparat, hingga potensi konflik sosial di masyarakat, jadi kami minta agar aparat penegak hukum, termasuk Kapolri, turun tangan langsung mengusut rentetan kasus pembunuhan tersebut,”tegasnya.
“Kami minta Kapolda tidak hanya menjadikan kasus ini sebagai laporan administrasi semata, tetapi benar-benar membentuk langkah konkret, investigasi menyeluruh, dan membuka secara transparan perkembangan penanganan kasus kepada publik,” pungkasnya.(sah)












