HARIANHALMAHERA.COM– harga beli buah kelapa oleh PT NICO yang terus turun, ternyata mematik amarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Halmahera Utara (Halut). Organisasi berslogan “Fastabiqul Khairat” ini pun menilai anjloknya harga komoditi tersebut menunjukan sikap tak berpihaknya anggota DPRD semtempat terhadap petani hingga terkesan cueknya Pemda Halut atas keluh-kesah para petani kelapa.
IMM Halut pun kritisi peraturan daerah (Perda) hilirisasi kelapa yang diterbitkan oleh Pemkab Halut, sebab regulasi itu seolah dianggap tak berguna bagi PT NICO, sekaligus tidak mampu lindungi petani
Ketua PC IMM Halut, Arafik S. Lagawa, menuturkan bahwa melihat sikap diam Pemkab dan DPRD Halut terhadap merosotnya harga kelapa tersebut tentu bentuk lemahnya keberpihakan terhadap petani.
“Jika Pemda dan DPRD Halut saja diam soal penurunan harga buah kelapa, apa jadinya petani di Halut? Seharusnya Pemda dan DPRD segera memanggil pihak PT. NICO untuk meminta penjelasan dan secepatnya mengatur mekanisme harga melalui Perda Hilirisasi yang sudah diterbitkan,”tuturnya, Selasa (21/7).
Belum ada terobosan nyata oleh kedua lembaga dalam membantu petani tersebut lanjutnya, tentu membuktikan bahwa pemda hanya dijadikan mainan oleh PT NICO. “Jangan-jangan Pemda dan DPRD diduga menjadi ‘boneka’ PT. NICO sehingga tidak berani memanggil manajemen perusahaan. Sejak Perda ini diterbitkan sampai sekarang mereka tidak mampu mengatur harga buah kelapa. Ini patut dipertanyakan karena ketika harga terus turun, justru tidak ada tindakan, seolah memilih tutup mata,”tandasnya.(cal)










