Halut

300 Karyawan PT. Emerald Dirumahkan

×

300 Karyawan PT. Emerald Dirumahkan

Sebarkan artikel ini
Kadis Nakertrans Halut, Jeffry R. Hoata

HARIANHALMAHERA.COM–Tak hanya Covid-19 yang berkontribusi melemahkan aktivitas sebuah perusahaan. Ada yang tak kalah hebat dari dampak virus tersebut dalam upaya pengembangan usaha, yakni ‘sengketa lahan.’

Hal itu terbukti pada PT. Emerald Ferrochromium Industry (EFI). Perusahaan pengolahan bijih besi yang berkedudukan di Desa Gulo, Kao Utara, itu dikabarkan berhenti beraktivitas untuk sementara waktu. Sebagai akibatnya, ratusan karyawan terpaksa dirumahkan hingga batas waktu yang belum tidak ditentukan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Halmahera Utara (Halut), Jeffry R. Hoata, menuturkan Pemda Halut sudah mengetahui terhentinya aktivitas produksi PT. Emerald yang berdampak pada dirumahkan karyawan mereka sebanyak 300 orang.

“Iya benar, aktivitas PT. Emerald saat ini terhenti dan sebanyak 300 lebih karyawan mereka telah dirumahkan,” kata Jeffry, Senin (23/11).

Meski karyawan dirumahkan sebanyak itu, lanjut dia, manajemen PT. Emerlad menyatakan tetap akan memberikan gaji karyawannya hingga perusahan kembali normal.

“Hak karyawan atau gaji tetap dibayar sampai waktu yang tidak bisa ditentukan, dan tentu karyawan yang dirumahkan itu akan dipanggil kembali jika persoalan sudah selesai,” terangnya.

Terkait terhentinya aktivitas perusahan ini, menurut Jeffry, sesuai keterangan dari perusahaan bahwa langkah itu diambil, karena dua faktor. Pertama, karena masih suasana Covid 19 dan kedua, status lahan yang hingga saat ini masih bersengketa dengan pemilik.

“Sebenarnya masalah utama adalah sengketa lahan antara pemilik lahan dengan PT. Emerald, yang sampai saat ini belum dibebaskan dari beberapa warga. Karena lahan tersebut berada di tengah-tengah lokasi perusahaan, maka berdampak pada aktivitas mereka,” jelasnya.

Jefry menambahkan, pembebasan lahan tersebut belum selesai. Karena permintaan harga oleh pemilik lahan cukup tinggi, sehingga perusahaan lebih memilih menghentikan sementara proses pekerjaannya.

“Intinya belum ada aktivitas produksi. Tapi ada sebagian karyawan atau staf administrasi mereka yang bekerja, tapi sebagian besar tidak bekerja,” ujarnya. (dit/kho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *