EkonomiMaluku UtaraPemprov

Investasi Malut 2022 Capai Rp 40 Triliun, Sebagian Daerah Belum Beri Support Investor

×

Investasi Malut 2022 Capai Rp 40 Triliun, Sebagian Daerah Belum Beri Support Investor

Sebarkan artikel ini
Bambang Hermawan (Foto : Antara)

HARIANHALMAHERA.COM– Peminat Investasi di Provinsi Maluku Utara (Malut) dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan, bahkan sepanjang tahun 2022 investasi di Malut tercatat mencapai sebesar Rp 40 triliun.

Capaian tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Penamaan Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Malut, Bambang Hermawan. Kepada awak media, selasa (4/4), Bambang, pun mengatakan tingginya minat investasi tersebut dapat di lihat dari data peningkatan mulai dari 2019 sampai 2022 yang terus tumbuh cukup pesat, dimana pada tahun 2019 saja mampu capai diangka Rp 20 triliun 50, kemudian 2020 naik menjadi Rp 30 triliu dan berlanjut naik di 2021 capai Rp 40 triliu dan terakhir di 2022 mampu tembus diangka Rp 50 triliun.

“Untuk 2023 ini kita target investasi masuk diangka 70 sampai 80 triliun. Jadi untuk peminat investasi sedang membumi, namun terkadang daerah yang tidak siap untuk memberikan fasilitas kemudahan bagi para investor,”katanya.

Menurutnya, Pemprov Malut sendiri sudah rancang kawasan investasi target pada tahun 2023 ini sebagai bukti bahwa investasi akan terus didorong untuk peningkatan ekonomi dan bahkan diupayakan pada tahun 2024 nanti investasi capai 100 triliun.

“Cuma kan kita tidak membangun, kita hanya menyiapkan jadi kalau ada peminat, kita tunjukan gambaran Desa tersebut. Kalau peminat oke, baru kita bisnis to bisnis, apakah pake CO apakah pake sewa dan pembagian hasil itu nanti dibicarakan,”sambungnya.

Bambang mengaku bahwa selama ini kawasan di Malut adalah kawasan yang dikembangkan oleh pelaku usaha sendiri seperti yang terjadi pada kawasan industi di Obi sehingga tdak memberikan efek bagi pertumbuhan kesejahteraan masyarakat, karena mereka yang kelola sendiri.

“Nah kalau misalnya kita membuat kawasan industri pendukung dan kawasan investasi pendukung maka bisa capai kesejahteraan,”ujarnya.(Ifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *