HARIANHALMAHERA.COM– wilayah Loloda dan sekitarnya benar-benar masih dijadikan Kecamatan tiri oleh Pemkab Halmahera Barat (Halbar), bahkan memasuki dua periode Bupati James Uang dan Wabup Djufri Muhammad, dengan pemerintahan akronim JUJUR ini pun, belum nampak menghapuskan stigma Loloda sebagai tempat pembuangan ASN lawan politik.
Betapa tidak, fasilitas layanan publik berupa infrastrurtur jalan, jembatan hingga sarana kesehatan dan pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar di Kecamatan tersebut, ternyata hingga detik ini belum kunjung dinikmati oleh masyarakat setempat selayaknya Kecamatan lain. Mirisnya lagi, program generas emas yang sempat dikoar-koar Pemda Halbar seolah tak berlaku di dunia pendidikan wilayah Loloda dan sekitarnya.
Hal itu terbukti, dimana belum redah aksi nekat warga 10 Desa di Kecamatan Loloda Tengah (Lodteng) yang terobos cuaca buruk demi numpang kapal perintis lantaran belum ada pelabuhan untuk kapal berlabuh, kini giliran masyaraka Loloda telah resahkan soal keterbatasan fasilitas pendidikan, seperti yang terjadi pada Sekolah Dasar (SD) Negeri 28 Halbar.
Sebab, puluhan siswa-siswa di sekolah tersebut terpaksa harus melakukan aktivitas belajar mengajar di luar ruangan dengan cara melantai, lantaran ruang kelas tak cukup serta terbatasnya perabot sekolah berupa meja hingga kursi. Bahkan, kabarnya peristiwa pilu itu disebut sudah berlangsung sangat lama, namun Pemda Halbar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) masih terkesan tak peduli.
Salah seorang guru SDN 28 Halbar, pun mengakui bahwa aktivitas belajar mengajar diluar ruangan tersebut terpaksa dilakukan, karena sekolah mereka hanya memiliki tiga ruang kelas yang dapat digunakan, sementara tiga rombongan belajar lainnya belum memiliki ruang belajar yang memadai.
“Meski kondisi sekolah terbatas ruangan, namun kami tetap melaksanakan proses belajar mengajar walaupun hanya di teras sekolah. Tentunya, kami sangat berharap adanya bantuan dan perhatian dari pemerintah agar anak-anak lebih aman, nyaman, bahagia, dan semakin semangat belajar,”katanya, Selasa (4/8).
Jumlah siswa SDN 28 Halbar sendiri lanjutnya, cukup banyak mulai dari kelas I hingga kelas VI, namun sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas yang selama ini digunakan oleh siswa kelas I, II, dan III, sementara siswa kelas IV, V dan VI harus mengikuti pembelajaran di teras sekolah karena belum tersedia ruang kelas. “Ruang kelas hanya tiga kelas. Tiga kelas lainnya belum ada, sehingga siswa kelas IV, V, dan VI belajar di luar atau di teras sekolah,”ungkap guru.
Pemda Halbar melalui Dikbud menurutnya, sempat memberikan perhatian dengan rehabilitas dua ruang kelas pada tahun 2025 lalu, akan tetapi hingga kini pekerjaannya belum juga rampung sehingga belum dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar. “Dua ruangan itu direhabilitasi pada 2025, tetapi sampai tahun ini pekerjaannya belum selesai,”pungkasnya.
Pihak sekolah tentu berharap Pemkab Halbar segera perhatikan nasib anak-anak sekolah di Loloda, setidaknya alokasikan anggaran untuk pembanguan geduang sekolah atau rehab ruangan sehingga aktivitas belajar mengajar berjalan nyaman.(rul)












