Pasien Corona Meninggal Umumnya Punya Penyakit Hipertensi-Diabetes

0
529
Infografis (CNN)

HARIANHALMAHERA.COM–HIPERTENSI dan diabetes yang masuk daftar atas ‘pembunuh’ berdarah dingin di dunia, ternyata punya peran besar bagi pasien yang terinfeksi virus corona (covid-19). Dua penyakit penyerta itu memperparah infeksi virus dan menyebabkan kematian tertinggi pada penderita covid-19.

Diketahui, komorbid merupakan kondisi dua atau lebih penyakit kronis yang diderita oleh seorang pasien. Pada pasien Covid-19 yang memiliki komorbid, mereka sudah memiliki penyakit bawaan sebelumnya.

Penyakit komorbid pada covid-19 itu dapat berupa hipertensi atau tekanan darah tinggi, diabetes, jantung, paru-paru obstruktif kronis (PPOK), asma, tuberkulosis (TBC), dan demam berdarah dengue (DBD).

“Faktor penyakit hipertensi, penyakit sesak napas karena ada kelainan paru-paru, bisa karena asma, TBC. Ini jadi penyebab meninggal kasus Covid-19, termasuk diabetes,” kata Juru Bicara Pemerintah Khusus Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, dikutip dari CNNINdonesia.com, Selasa (14/4).

Yurianto tidak merinci jumlah pasien yang meninggal karena sebuah komorbid. Namun, data di Italia menunjukkan 99 persen pasien Covid-19 yang meninggal dunia memiliki penyakit lain. Lebih dari 75 persen memiliki hipertensi, 35 persen memiliki diabetes, dan 33 persen memiliki penyakit jantung.

Komorbid atau penyakit penyerta dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat membuat virus semakin merajalela merusak organ. Pada kasus yang fatal, maka dapat menyebab kerusakan organ yang berujung pada kematian.

Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Profesor Zubairi Djoerban menjelaskan kondisi hipertensi dan diabetes akan memperparah pasien karena dua penyakit ini berhubungan dengan seluruh organ tubuh.

“Jadi, kalau orang sakit hipertensi itu, memudahkan timbulnya stroke, jantung, gagal ginjal. Ada banyak organ tubuh yang rusak karena darah tinggi,” kata Zubairi yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/4).

Hipertensi adalah kondisi tekanan atau sirkulasi darah yang kuat pada jantung dan dinding pembuluh darah di seluruh tubuh. Seseorang memiliki hipertensi jika pengukuran tekanan darah berada di atas 140/90 mmHg. Darah yang mengalir ke seluruh tubuh membuat seluruh organ rentan terhadap gangguan karena tekanan yang tinggi.

“Hipertensi adalah biang keladi, sumber malapetaka yang menyebabkan kerusakan semua organ yang punya pembuluh darah,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Tunggul D Situmorang di Jakarta dalam sebuah konferensi pers Februari 2020 lalu.

Tekanan darah tinggi adalah penyebab kematian dan kesakitan utama dengan 9,4 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Di Indonesia, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru pada 2018, penderita hipertensi meningkat menjadi 34,1 persen dari 25,8 persen pada 2013.

Adapun diabetes, juga berhubungan dengan seluruh organ tubuh. Diabetes merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah. Gula darah yang tinggi juga merusak seluruh organ tubuh. “Diabetes juga memudahkan stroke, penyakit jantung, ginjal, dan mata,” ucap Zubairi.

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyandang diabetes naik menjadi 8,5 persen dari 6,9 persen pada 2013. Hipertensi dan diabetes merupakan dua penyakit tidak menular dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahun. Dua penyakit ini tak bisa disembuhkan tapi bisa dikontrol dengan perawatan. Penyakit ini merupakan komorbid atau penyakit penyerta yang meningkatkan risiko kematian pasien corona.

Dua kondisi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti usia, genetik, dan juga gaya hidup yang tidak sehat. Pola makan tinggi gula, garam, lemak, serta tidak berolahraga menjadi faktor risiko hipertensi dan diabetes. Merokok, konsumsi alkohol, obesitas, dan stres juga meningkatkan risiko terkena hipertensi dan diabetes.(cnn/fir)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here