Sultan Tidore Buka Ruang Bahas Sofifi

0
108
Sultan Tidore, Husain Sjah (Foto : Ist)

HARIANHALMAHERA.COM–Refleksi 23 tahun Provinsi Maluku Utara (Malut) yang mempertemukan kembali Sultan Tidore Husain Alting Syah dengan Gubernur Malut Abdul Ghani Kasuba (AGK) pada Senin (17/10) malam, memunculkan angin segar terkait status Sofifi. Ajakan untuk duduk bersama membahas Sofifi kedepan pun datang dari Sultan.

Persoalan Ego yang selama ini disebut-sebut menjadi penghambat status DOB (Daerah Otonom Baru) Sofifi yang sampai saat tak kunjung jelas, perlahan-lahan mulai tergerus.

Para tokoh yang selama ini terlibat friksi terutama Gubernur Abdul Ghani Kasuba (AGK) dan Sultan Tidore Husain Alting Syah, mulai mencair. Sinyal itu muncul tatkala keduanya bertemu di malam refleksi 23 tahun Provinsi Malut yang digagas para tokoh pemerkaran provinsi Malut.

Di acara itu, Senator asal Malut itu membuka ruang kepada semua tokoh untuk duduk bersama duduk membahas perkembangan Sofifi tentu dengan niat yang tulus.  “Provinsi Maluku Utara kalau  dibangun dengan nawaitu yang salah, ibarat dua titik berbeda saling berhadapan ketika tidak ditempatkan satu titik dia tidak akan ketemu dengan satu ujung  jauh di sana.,” kata Sultan.

“Torang harus dudukan kembali segala sesuatu tbertumpu di hati, torang bangun Maluku Utara ini dengan motivasi apa torang tanya masing -masing tong pe diri, tong dudukan kembali tong pe niat bahwa saya jadi warga Maluku Utara karena allah,” sambungnya

Dia menilai, dengan usia yang sudah memasuki 23 tahun, namun Provinsi Malut sampai saat ini masih jalan di tempat.  “Terlalu ekstrim kalau saya harus sampaikan ada beberapa langka yang mundur. Saya melihat torang berjalan di tempat,” ucapnya

Hal ini karena menurut Sultan, selama ini Pembangunan di Malut terkesan berjalan sendiri-sendiri. Untuk membangun Malut dan Sofifi, selain dengan hati yang tulus, harus menggandeng semua elemen masyarakat.

“Kalau jadi gubernur hanya ingin gagah-gagahan, maka semua itu di alam nanti akan dimintai pertanggungjawaban. akan Ditanya, Maluku Utara aka dijadikan apa? ummatmu diberikan apa selama masa jabatan gubernur, itu semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat,” ucap Husain.

Baginya, saat ini semua harus duduk bersama membahas soaol Sofifi dan Malut. Apalagi, daerah ini merupakan daerah adat. Jika semua pihak mengerti adat, maka Malut tidak bernasib seperti saat ini. “Jadi mari torang jalan dan luruskan persoalan ini, Kalau salah, katakan salah, benar katakan benar. Jadi mari torang duduk bersama bahas Sofifi,” pinta mantan KAdis Pariwisata (Kadispar) Kota Ternate ini.

Sementara itu, Gubernur AGK mengatakan, usai berkunjung ke Sofifi beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo mengaku sudah melihat langsung kondisi Sofifi, sehingga status sofifi ini akan dibicarakan dengan Mendagri.

Bagi AGK, pertemuan dengan Mendagri nantinya juga menjadi tanggungjawab Sultan Tidore sebagai anggota DPD RI. “Seperti ini juga domainya DPD RI, jadi Ou (Sultan) punya tanggungjawab, bukan hanya saya sendiri,” katanya

Dalam kunjungan kerja ke Malut itu juga, AGK mengatakan sudah menyampaikan ke Presiden terkait status Sofifi yang sudah 23 Tahun tak kunjung jelas. “Saya bilang ke presiden rakyat menunggu, masa Papua sudah 4 J=jadi kabupaten, Sofifi yang sudah bertahun-tahun  kita namakan sofifi rumah kita tapi ternyata kita tidak punya rumah, Tidore usir katorang tarus. Untungnya ada Sultan,” katanya,

“Tapi insya allah sudah ada isyarat, saya sudah sampaikan ke Presiden minta bantu sebelum turun jabatan, Sofifi sudah punya rumah kita kalau tidak, kita menumpang tarus dan 23 tahun  yang orasi semua hantam pa saya tapi dong tara tau,” imbuhnya. (lfa/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here