Transmisi Lokal Sudah Ada, Tapi Belum Terdeteksi

0
448
dr Alwia Assegaf, Juru bicara gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Provinsi Maluku Utara. (foto: RRI)

HARIANHALMAHERA.COM–DISAMPING kurangnya kesadaran warga mematuhi imbauan pemerintah tentang pencegahan penularan Covid-19, tidak adanya ketegasan dari pihak gugus untuk menindak warga yang membandel pun ikut mempengaruhi ancaman transmisi lokal penularan Covid-19 di Malut.

Ancaman munculnya kasus lokal dengan cepat ini berpotensi terjadi di Kota Ternate. Sebab, imbauan pemerintah yakni berdiam diri di rumah, menjaga jarak interaksi dan memakai masker ketika di luar rumah belum berjalan efektif.

Hal ini diakui langsung juru bicara (jubir) gugus percepatan penanganan Civid-9 Malut dr Alwia Assagaf. Dia mencohtohkan penjual jajanan buka puasa di Ternate yang banyak tidak mengebakan masker Sudah begitu, kerumunan pun masih tampak banyak terjadi di pasar. “Kita himbau pakai masker masih saja tidak pakai,” ucapnya.

Jika imbauan-imbauan ini tidak dilaksanakan, maka tidak perlu heran jika penularan terjadi begitu cepat. Bahkan, bisa mengarah ke transmisi lokal meskipun seluruh akses masusk ke Malut telah ditutup. “Saya ingatkan jangan main-main dengan masker.

Direktur LSM Rorano Asghar Saleh menilai dengan jumlah kasus posifit yang terus bertambah, jika dihitung secara eksponensial maka jumlah kasus lokal sudah sangat banyak namun belum saja terdata.

“Bisa jadi sudah ada local transmitter yang belum diketahui,” katanya.

Karenanya, penegakan diagnostik sebagai kebutuhan memutus rantai penularan jadi masalah serius karena kita tak punya laboratorium. “Tiga minggu lalu saya sudah meminta perhatian serius untuk membangun labodatorium sendiri di Ternate meskipun biayanya sangat mahal.

Namun no respons dan berpikir jangka pendek seolah-olah coronavirus yang sudah jadi pandemi ini tak berkepanjangan,” katanya.

Dengan pemberlakuan larangan terbang, maka saatnya fokus ke penanganan kesehatan lokal secara serius. Kemudian menggeser petugas di pintu pintu masuk karena sudah tidak ada orang yang datang ke Malut.

“Pemda sudah harus mulai memutuskan skema ekonomi dan sosial secara terukur dan nyata sehingga dampak “lokdown” ini bisa diminimalisir. Contoh kecilnya adalah teman teman yang bekerja di bandara sebagai porter dan lain-lain atau para buruh di pelabuhan yang sudah pasti
kehilangan pekerjaan harian,” tegasnya.

Di lain tempat, Kepala Biro Kerjasama dan Komunikasi Publik (KKP) Malut Mulyadi Tutopoho menambahkan, menyikapi ketidakpatuhan warga Kota atas himbauan pemerintah, pihak gugus Covid -19 Malut akan segera mengundang Pemkot untuk rapat bersama mengatasi masalah tersebut pada Senin (27/4) hari ini.

Rapat yang akan dipimpin langsung wakil ketua I Danrem I52 di posko utama Grand Sahid Hotel itu, untuk membicarakan langkah-langkah apa yang harus diambil pemerintah.

“Mungkin difasilitasi dengan adanya petugas sehingga posisi pedagang yang berjualan baik di pasar Higienis, Pasar Bastiong dan lainnya dapat diatur secara tertib,” singkatnya.(lfa/pur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here