Kolom

HIV dan AIDS Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Masyarakat

×

HIV dan AIDS Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Ramdani Sirait, Humas PT NHM

Oleh: Ramdani Sirait

Direktur Eksekutif IBCA 2014-2017; Penulis Buku ‘Jangan Bawa Pulang HIV’; Manajer Komunikasi PT NHM

 

SETIAP tahun, 1 Desember selalu diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia/ Wold AIDS Day (WAD). Namun seringkali, setelah 1 Desember, pembicaraan dan diskusi tentang HIV dan AIDS hilang begitu saja, dikesampingkan. Padahal, HIV dan AIDS masih menjadi ancaman. Kini ketika pandemi Covid-19 belum berakhir, dan entah kapan akan berakhir, HIV dan AIDS makin terlupakan.

Ketika saya memimpin organisasi dengan nama “Indonesian Business Coalition on AIDS” atau Kumpulan perusahaan-perusahaan peduli HIV dan AIDS” yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan yaitu Chevron Indonesia, Freeport Indonesia, Gajah Tunggal Tbk, Unilever Indonesia, Beyond Petroleum, Sinar Mas Group dan Sintesa Group, saya menganalisa banyaknya permasalahan di seputar HIV dan AIDS.

Ketika saya menulis buku dengan judul “Jangan Bawa Pulang HIV”, saya semakin mendalami permasalahan yang ada. Ada ketidaktahuan masyarakat tentang HIV dan AIDS. Parahnya, meskipun ada yang tahu, namun tantangannya adalah ketidakpedulian. Hal inilah yang membuat saya yang orang komunikasi, tertarik mendalami masalah HIV dan AIDS ini waktu itu. Karena ada kaitan yang erat antara ilmu komunikasi dengan kesehatan masyarakat. Bahkan sejumlah perguruan tinggi sudah mengajarkan ilmu komunikasi kesehatan di Fakultas Komunikasi atau Jurusan Ilmu Komunikasi.

Buku Ramdani Sirait

Apa ketidaktahuan dan ketidakpedulian itu? Begini.

Banyak orang terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus) karena tidak tahu bagaimana virus ini sampai ke tubuh seseorang. Bahkan tidak sedikit yang tidak tahu bahwa HIV itu adalah virusnya, bukan penyakitnya. Apa bedanya dengan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)? Nah lo, apalagi ini? Karena banyak yang mengira HIV dan AIDS satu hal yang sama karena sering ditulis HIV/AIDS. Padahal seharusnya HIV dan AIDS. Karena dia adalah dua hal yang berbeda.

Itulah sebabnya, edukasi atau sosialisasi tentang HIV dan AIDS harus menggunakan bahasa yang sederhana, agar dipahami oleh masyarakat umum, bahkan bagi masyarakat dengan latar belakang pendidikan yang rendah.

HIV adalah virusnya. Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika seseorang terinfeksi HIV, lalu dia tidak pernah tahu bahwa dia sudah terinfeksi, lalu tidak pernah melakukan tes HIV dan tidak pernah mendapatkan perawatan dokter, kekebalan tubuhnya akan menurun. Kapan kekebalan tubuh itu menurun? Masing-masing orang berbeda. Tergantung dari kondisi tubuhnya. Ada yang 7 tahun, ada yang 5 tahun, bahkan ada yang hanya dalam waktu 2 tahun kondisi tubuhnya menurun drastis karena kekebalan tubuhnya menurun drastis, karena digerogoti oleh HIV.

Lalu, bagaimana seseorang bisa terinfeksi HIV? HIV akan menular melalui darah, sperma laki-laki, cairan vagina perempuan dan air susu ibu. Bagaimana cara penularannya? Jika terjadi kontak fisik dan ada celah di kulit seseorang. Itulah sebabnya mengapa orang-orang yang berhubungan seks tanpa kondom berisiko tertular HIV.

Karena jika salah satu dari mereka sudah terinfeksi HIV, lalu mereka melakukan hubungan seks tanpa kondom, pasangannya kemungkinan akan tertular. Karena apa? Karena hubungan seks yang melakukan penetrasi akan menimbulkan luka walaupun hanya lecet kecil. Melalui luka atau lecet itulah, sperma atau cairan vagina atau darah seseorang yang sudah terinfeksi HIV akan masuk ke dalam tubuh pasangan seksnya melalui luka atau lecet tersebut.

Kalau begitu main seksnya pelan-pelan saja. Eh guys, sepelan apapun permainan seks, pasti akan menyebabkan gesekan. Selain itu, apa iya anda bisa melakukannya pelan-pelan sampai orgasme? Yang bener aja. Itu sebabnya selalu memakai kondom saat berhubungan seks. Bahkan dengan pasangan resmi anda sekalipun. Kecuali saat merencanakan kehamilan.

Lalu mengapa air susu ibu? Seorang ibu yang terinfeksi HIV jika dia menyusui bayinya, ada kemungkinan bayinya akan terinfeksi juga? Bagaimana bisa? Karena kata dokter, saluran pencernaan bayi masih sangat tipis sehingga bisa air susu yang sudah mengandung HIV itu masuk ke dalam jaringan tubuh si bayi.

Begitu juga dengan mereka yang PENASUN, pengguna jarum suntik, yaitu pengguna narkoba yang menggunakan jarum suntik bergantian satu dengan yang lainnya. Apakah narkoba yang membuat seseorang terinfeksi HIV? Bukan. Yang membuat mereka terinfeksi adalah jarum suntik yang digunakan bergantian tersebut, karena pengguna jarum suntik pertama akan meninggalkan darah di jarum tersebut, lalu ketika pengguna kedua memasukkan jarum itu ke tubuhnya, darah pengguna jarum pertama ikut masuk ke tubuhnya. Begitu seterusnya jika yang melakukan pesta narkoba itu banyak orang.

Menurut Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani HIV dan AIDS yaitu UNAIDS, mereka yang rentan terhadap penularan HIV adalah pekerja seks, pengguna narkoba suntik, waria/transgender dan LSL (Laki-laki berhubungan seks dengan Laki-laki). Kalau kamu bukan termasuk golongan mereka, apakah kamu aman melakukan seks dan pesta narkoba seenakmu saja? Tidak. Ada beberapa kelompok lain yang rentan.

Siapa lagi yang mungkin terinfeksi HIV? Dokter dan paramedis yang membantu seorang pasien yang sedang luka parah dengan darah yang berceceran, lalu mereka tidak mengunakan alat pelindung diri sehingga darahnya mengenai tangan mereka. Karena, dalam proses pertolongan medis tersebut, bisa saja tangan sang dokter atau paramedis itu menyetuh benda keras atau tajam sehingga luka atau lecet dan darah dari pasien mengenai lukanya. Atau juga saat bidan menolong persalinan seorang ibu.

Yang memprihatinkan adalah orang-orang yang tidak termasuk dalam empat kelompok di atas, tetapi angka infeksi HIV-nya tinggi. Yaitu Ibu Rumah Tangga. Mengapa? Karena para suami yang melakukan seks bergonta ganti pasangan di luar rumah dan tidak pakai kondom serta mengkonsumsi narkoba dengan jarum suntik yang bergantian. Ini memprihatinkan.

Lalu, apa itu AIDS? AIDS adalah kumpulan syndrome atau gejala-gejala atau kondisi tubuh seseorang akibat menurunnya kekebalan tubuh. Jadi jika seseorang terinfeksi HIV, tidak pernah tes dan tidak pernah diobati, lamban laun kekebalan tubuhnya menurun. Ibarat sebuah negara, sudah tidak ada lagi tentaranya yang sebelumnya menjaga keamanan dan ketahanan negara. Ketika ada musuh yang datang, musuh tersebut dengan leluasan masuk ke negara tersebut karena tentaranya sudah tidak ada, sistem pertahanannya sudah tidak ada.

Nah ini yang terjadi jika seseorang yang sudah terinfeksi HIV tapi tidak pernah diobati. Segala macam virus lain dan bakteri akan mudah masuk ke dalam tubuhnya dan menggerogoti tubuhnya tanpa ada kekuatan yang bisa menghalau virus dan bakteri tersebut. Ini yang disebut IO atau Infeksi Oportunistik, gangguan kesehatan yang terjadi karena mengambil kesempatan saat kondisi tubuh sedang lemah akibat kekebalan tubuh yang menurun dratis.

Tapi kalau mengedukasi orang lain atau masyarakat, jangan hanya bilang IO, karena orang lain akan mengira itu EO (Event Organizer). Itulah sebabnya mengapa seseorang yang sudah menjadi AIDS seringkali meninggal karena masalah pernafasan. Karena dengan mudah bakteri TBC (tuberculosis) masuk ke dalam tubuhnya dan menyerang paru-parunya.

Banyak yang harus ditulis mengenai HIV dan AIDS ini. Namun poin-poin penting untuk menghindarkan diri sendiri atau masyarakat dari HIV dan AIDS adalah:

  1. Jangan melakukan hubungan seks dengan seseorang yang bukan pasangan tetapmu. Kalau ternyata anjuran ini tidak dapat kamu lakukan alias kamu tidak bisa setia dengan pasanganmu, pakai kondom saat berhubungan seks dengan orang lain. Ini soal Kesehatan. Soal moral itu urusan lain. Bagi orang-orang yang masuk kategori “mobile man with money”, orang-orang yang sering bepergian dan punya uang, pastikan hal ini dipahami dengan baik.
  2. Jangan mengkonsumsi narkoba dengan menggunakan jarum suntik bergantian. Bukan berarti saya menganjurkan kamu untuk mengkonsumsi narkoba sendiri-sendiri lo. Karena kalaupun pakainya sendiri-sendiri, tetap saja ada bahayanya, ditangkap polisi.
  3. Ketika mengedukasi orang lain atau masyarakat, gunakan bahasa yang mudah dimengerti. Jangan menggunakan bahasa yang dibungkus-bungkus dengan kalimat lain atau menggunakan istilah yang tidak dimengerti orang lain. Pakai bahasa yang lugas dan kata-kata yang sederhana.
  4. Terakhir, seperti kata-kata yang saya tulis di buku saya tersebut, saya mengulangnya kembali di tulisan ini. Kita bepergian ke banyak waktu dan ruang, mencari sahabat dan uang. Tapi ketika kita pulang, pastikan bukan HIV yang kita bawa pulang.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *