Lebih Dekat dengan H Robert Nitiyudo (2)

3
1730
MEGAH: Inilah asrama putri Ponpes Ulumul Quran yang dibangun Yayasan Al Qahhar, milik H Robert Nitiyudo. (foto: Ponpes UQ for Harian Halmahera)

Laporan, Tim Redaksi

PASTI banyak dari pembaca bertanya-tanya. Mengapa di tengah pandemi corona virus disease (covid-19) kami membuat catatan tentang H Robert Nitiyudo, Presiden Direktur (Presdir) PT Nusa Halmahera Minerals (NHM).

Mengapa bukan terkait penanganan covid-19  yang carut marut. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Kami sudah menyiapkan jawabannya. Bahkan sejak kemarin, sebelum seluruh produk jurnalistik Harian Halmahera tayang dan di baca hari ini (kemarin, red).

Sebelum kami menjawabnya, kami kutip sedikit tulisan Dahlan Iskan dalam disway edisi 8 Arpil 2020. “Masih ada lagikah yang perlu Anda ketahui tentang Covid-19? Rasanya tidak ada lagi. Anda sudah menjadi ahli Covid-19 sekarang ini –lebih ahli dari dokter. Dokter hanya mau membaca yang masuk-masuk akal saja. Kita membaca apa pun yang ada di medsos –asal dikait-kaitkan dengan Covid-19.”

“Cukup. Cukuplah. Sudah waktunya move on. Banting stir. Move on-lah dengan aman, cerdik, dan kreatif. Sedang untuk mengetahui berapakah skor yang mati ikuti saja sehari sekali. Berhentilah depresi. Mulailah hidup baru yang lebih cerdas.”

Ternyata hubungan kami dengan Dahlan Iskan masih cukup kuat. Beliau tidak sekadar bos dalam perusahaan kami. Beliau tidak sekadar guru jurnalistik, tapi beliau lebih dari panutan bagaimana melihat hari esok.

Jawaban kami, sekiranya mirip dengan Pak Dahlan. Cukuplah tentang covid-19. Masyarakat justru saat ini tengah berada dalam zona teror psikologi covid-19. Teror yang membuat semua aktivitas lumpuh dan bikin orang kehilangan akal sehat.

Padahal, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meneruskan hidup. Cobalah mulai saat ini berpikir kreatif. Merancang langkah-langkah inovatif melanjutkan hidup. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa dipikul hambaNya.

Jawaban kedua kami, tidak lain ingin membantu masyarakat Halut, khususnya yang ada di lingkar tambang. Alih-alih untuk kesejahteraan, justru yang muncul hanya konflik berkepanjangan. Waktu terbuang percuma. Kami prihatin. Sudah sekira 20 tahun aktivitas blok gosowong dibuka, namun tidak terlihat perubahan signifikan (kesejahteraan) di lingkar tambang.

Kenapa bisa begitu? Pasti ada yang salah. Dan untuk memecahkan masalah inilah jadi bagian dari move on Pak Dahlan tadi. NHM sekarang sudah berubah. Pemiliknya sudah berganti. Bukan lagi orang bule yang selama ini tidak peduli.

Saat ini NHM sudah dikelola bangsa sendiri. PT Indotan Halmahera Bangkit. Yang punya H Ribert Nitiyudo. Dia ingin melakukan perubahan besar-besaran dalam manajemen perusahaan. Dia berniat membangun kembali hubungan dengan masyarakat dan daerah.

Dia ingin masyarakat lingkar tambang tidak sekadar ‘penonton’ yang hanya menerima subsidi, tanpa ada perubahan. Dia ingin mendorong masyarakat menemukan ‘kekuatanya’ sendiri, yang ke depan nantinya, bila tambang benar-benar berhenti beroperasi, masyarakat di lingkar tambang sudah mandiri.

Memang, untuk melupakan sejarah lampau yang sudah dilakukan Newcrest, tidak segampang membalikkan telapak tangan. Namun, justru disitulah letak ‘titik balik’.

Duduk bersama. Ciptakan program-program jangka panjang. Program yang bisa menguntungkan masyarakat. Toh bagi kami, perusahaan tidak mencari keuntungan dari masyarakat. Perusahaan hanya ingin ‘bekerja’ dengan nyaman. Karyawan sejahtera, dan masyarakat di lingkar tambang juga sejahtera.

Coba kita renungkan. Kenapa PT Indotan yang mendapatkan saham Newcrest, bukan perusahaan lain. Kenapa H Robert Nitiyudo, bukan pengusaha lain. Mungkin saja ini jawaban pertama dari Tuhan atas doa seluruh masyarakat di lingkar tambang yang selama ini (katakanlah) terzolimi dengan kebijakan-kebijakan manajemen lama perusahaan.

Baca Juga: Siapakah H Robert Nitiyudo? (1)

Ini adalah lembaran baru. Coba tengok sosok pimpinan perusahaan saat ini berdasarkan kesaksian-kesaksian dalam catatan sebelumnya. Membantu masyarakat adalah amal baginya. Dia (H Robert) begitu peduli orang, terutama kaum miskin, anak yatim piatu.

Dia tidak pernah memandang latar belakang orang. Dia tidak segan-segan melepas hartanya untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Meski dalam keadaan sulit, santunan baginya adalah keharusan.

“Saya lihat dari beliau (H Robert) bukan berapa besar yang diberikan. Tapi kasih sayangnya beliau terhadap kami (anak yatim piatu). Saya sendiri tidak kuat jika memikirkan itu. Air mata sering jatuh sendiri tanpa sadar,” kata Jamaluddin, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Ulumul Quran.

Jamaluddin adalah salah satu rekomendasi Pak Eko. Jamaluddin mengelola (Ponpes) Ulumul Quran putri. Sedangkan kakaknya mengelola Ponpes Ulumul Quran putra. Yayasan Al Qahhar milik H Robert bersama Yayasan Ulumul Quran milik keluarga Jamaluddin, bersama-sama membina anak yatim piatu dan membuka pendidikan murah.

Pesantren ini, kata Jamaluddin saat dihubungi via telepon, ikut kurikulum pendidikan nasional, ditambah mata pelajaran Islam. Pesantren ini memang dikhususkan bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“Kalau anak yatim piatu memang digratiskan. Untuk yang lain, biaya sekolahnya per bulan hanya Rp 36 ribu. Saat ini khusus putri sudah ada sekira 700 santri. Mereka semua diwajibkan asrama, nah asrama ini dibangun Pak Haji,” sebutnya.

Tidak hanya itu, kata Jamaluddin, Pak Haji juga bikin klinik gigi. Peralatannya secanggih rumah sakit. Ada laboratorium komputer. Siswa juga diajarkan mandiri. Diberi keterampilan sebagai bekal masa depan mereka.

“Saya ingat, kamar-kamar asrama ini semuanya ingin dipasang AC oleh Pak Haji. Katanya, masa mereka tidur di kamar kepanasan, sementara kita bisa tidur nyenyak di kamar AC. Tapi, saya bilang itu untuk melatih mereka. Nah, itu salah satu perhatian dan kasih sayang Pak Haji,” kenangnya.

Jamaluddin juga menyebut, bantuan Pak Haji ke pesantren tidak pernah putus. Meski usahanya lagi sulit, dia tetap mengutamakan santunan. “Saya kenal Pak Haji sejak 2003. Saya tahu kondisi usaha beliau. Naik turun. Tapi, karena beliau ingin beramal, baginya itu bukan masalah. Bahkan, beliau sudah berpesan, jika umurnya sudah sampai pada batasnya (meninggal), beliau ingin dimakamkan dekat musolah di pesantren ini.”

Nah, bagaimana di Halut, khususnya di lingkar tambang? Saatnya bangkit. Bikin program bersama. Manfaatnya bisa dirasakan seluruh masyarakat di lingkar tambang. Bisa di bidang pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan (UMKM).

Bukan tidak mungkin, Kao-Malifut ke depan bisa lebih maju dari saat ini. Bukan tidak mungkin lagi, Kao-Malifut akan menjadi daerah ‘rujukan’ dari Tobelo, Jailolo, bahkan Sofifi.

Tentunya ini sekadar saran. Semuanya tergantung pada masyarakat itu sendiri. Karena yang mampu mengubah nasib adalah masyarakat itu sendiri, bukan orang lain, bukan juga perusahaan.(*/bersambung)

3 KOMENTAR

  1. Luar biasa Pak Haji Robert, semoga amal ibadah beliau dibalas oleh Allah SWT dan beliau diberi kesehatan serta umur yang panjang dan hal yang sama bisa dirasakan oleh masyarakat lingkar tambang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here