Kolom

Seruan Persatuan dalam Isra Mikraj

×

Seruan Persatuan dalam Isra Mikraj

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhbib Abdul Wahab
Dosen Pascasarjana FITK UIN Syarif Hidayatullah dan UMJ

 

SALAH satu peristiwa luar biasa dan penuh mukjizat yang dialami Nabi Muhammad SAW ialah Isra dan Mikraj. Perjalanan Isra Mikraj merupakan perjalanan suci penuh spiritualitas dan moralitas, di samping berwawasan sains dan teknologi yang sangat menarik dan menantang riset ilmiah di kalangan ilmuwan atau saintis.

Salah satu pesan utama dari perjalanan Isra Mikraj ialah seruan persatuan multidimensi. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina ialah perjalanan unifikasi tempat suci, tempat beribadah, dan bersujud menghambakan diri kepada Allah SWT.

Masjid ialah basis persatuan, pengabdian, dan perjuangan menuju kedekatan diri kepada-Nya. Kedekatan diri kepada Allah merupakan modal awal dan utama mewujudkan kedekatan dengan sesama.

Visi Integrasi

Sebagai pusat penyatuan dan persatuan umat dan bangsa, masjid di mana pun dan kapan pun pasti bervisi integrasi. Karena itu, masjid juga sering disifati dengan kata jami sehingga masjid jami berarti masjid yang menyatukan umat dan bangsa. Visi integrasi masjid merupakan sebuah keniscayaan karena jemaah yang memakmurkan masjid pasti berteologi tauhid yang esensinya ialah mengesakan Allah SWT serta menyatukan umat dan bangsa.

Visi integrasi perjalanan Isra ditunjukkan ketika Rasulullah SAW transit di Masjidil Aqsa, sebelum bertolak menuju Sidratul Muntaha. Ketika berada di Masjidil Aqsa, Nabi SAW melakukan salat dua rakaat. Menurut hadis riwayat Al-Bukhari, di Masjidil Aqsa pula Nabi SAW dipertemukan dengan para nabi sebelumnya. Nabi SAW didapuk menjadi imam salat di hadapan mereka. Reuni para nabi dan salat berjemaah di masjid menunjukkan persatuan visi dan misi tauhid para nabi dan rasul.

Perjalanan Isra Mikraj dengan transit di Bait al-Maqdis (rumah kesucian) di Palestina juga sarat visi integrasi dan toleransi antaragama dan budaya. Menurut Karen Armstrong, dalam buku Yerusalem: Satu Kota, Tiga Agama (2018), Baitul Maqdis merupakan titik pertemuan para nabi dan titik persatuan (kesamaan) teologis tiga agama, yakni Yahudi, Kristen, dan Islam.

Di Palestina, para nabi seperti Ibrahim AS, Musa AS, Dawud AS, Sulaiman AS, dan Isa AS pernah menjadikan Baitul Maqdis sebagai tempat suci dan pusat integrasi ibadah mereka. Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan tiga agama sawami atau Abrahamic Religions yang bersumber sama, yaitu tauhid kepada Allah yang Maha Esa.

Oleh karena itu, sumber ajaran (teologi) agama Abrahamic Religions itu satu. Maka dari itu, seruan persatuan dalam perjalanan Isra Mikraj itu berarti umat beragama idealnya bersaudara, bertoleransi, tidak mudah diprovokasi, diadu domba, apalagi sampai terjadi konflik dan perang saudara. Visi integrasi dari perjalanan Isra Mikraj harus dimaknai bahwa tiga agama itu saling menghormati kesucian tempat ibadah mereka.

Hati yang suci, di Rumah Allah yang Maha Suci, pasti memancarkan pemikiran jernih, sikap arif bijaksana, dan perbuatan mulia, jauh dari permusuhan, kekerasan, kebencian, konflik, apalagi peperangan. Kesucian masjid sebagai simbol persatuan meniscayakan kesediaan bertoleransi dan berdemokrasi karena dalam salat berjemaah tidak ada lagi sekat-sekat sosial kultural. Semua jemaah: pemimpin dan rakyat, kaya, miskin, tua, muda, bisa berdiri berdampingan satu saf (barisan).

Dalam konteks keindonesiaan, disadari atau tidak, visi dan misi integrasi berbasis tauhid telah menjadikan para pendiri bangsa ini menyepakati sila pertama Pancasila dengan formulasi ‘ketuhanan YME’. Sila pertama itu harus menjadi dasar dan spirit aktualisasi nilai-nilai dari empat sila lainnya.

Karena itu, sila ketiga ‘persatuan Indonesia’, harus berangkat dari keyakinan atau keimanan yang kuat kepada Tuhan YME bahwa warga bangsa Indonesia harus berkomitmen kuat dan bersatu dalam bingkai NKRI sebagai darul ahdi wa asy-syahadah (negeri perjanjian ‘untuk tetap bersatu’ dan pembuktian kinerja kesalehan)

Satu Ideologi, Multiprestasi

Perjalanan Isra yang bersifat horizontal: lintas masjid, lintas suku bangsa, lintas agama dan budaya, dilanjutkan pendakian spiritual, yaitu Mikraj menuju Sidratul Muntaha setelah melintasi multilapis langit kemahabesaran dan kemahakuasaan Allah. Pendakian spiritual Nabi SAW untuk dipertemukan dan beraudiensi dengan Allah itu meniscayakan kedekatan personal dengan-Nya. Kedekatan spiritual itu difasilitasi dengan kewajiban melaksanakan salat lima waktu setiap hari.

Perintah salat lima waktu secara langsung dalam audiensi di Sidratul Muntaha menunjukkan posisi sentral salat sebagai tiang agama karena amalan pertama yang akan diaudit Allah di akhirat kelak ialah salat. Apabila audit mutu salat terbukti baik: ikhlas, tertib, khusyuk, dan bermakna, kinerja-kinerja (amal) lainnya dari seorang hamba akan baik pula. Dengan kata lain, salat merupakan standar utama baik atau tidaknya kinerja Muslim.

Agar berfungsi sebagai miraj al-mukmin (pendakian spiritual Mukmin), salat harus dikerjakan dengan penuh keyakinan, ketulusan, kesungguhan, ketekunan, dan keberlanjutan.

Dengan kata lain, salat itu dipahami, diyakini, dan dimaknai sebagai penggilan iman untuk meraih keberuntungan dan kemenangan. Panggilan salat (azan) ialah hayya ‘ala ash-shalah, hayya ‘ala al-falah (marilah kita melaksanakan salat. Marilah kita meraih keberuntungan dan kemenangan). Panggilan untuk melaksanakan salat ialah panggilan peneguhan ideologi dan prestasi tinggi.

Oleh karena itu, salat menyerukan persatuan ideologi spiritual dengan khusyuk dan fokus mengingat Allah (dzikrullah) agar membuahkan multiprestrasi, multikesalehan, multikebajikan demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan spiritual melalui salat perlu diaktualisasikan menjadi ideologi nasional,merawat dan mengawal NKRI, serta menunjukkan kinerja dan prestasi tinggi dalam bidang apa pun.

Dengan demikian, seruan persatuan dalam Isra Mikraj menginpsirasi umat beragama untuk menjadi  warga bangsa yang taat, saleh, dan disiplin dalam beriman, berilmu, beramal saleh, dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara.

Oleh karena itu,  seruan persatuan dalam Isra Mikraj Nabi SAW  harus dikontekstualisasikan dalam rangka merawat dan mengukuhkan NKRI dengan meneguhkan komitmen berideologi Pancasila dan UUD 1945 dengan mengembangkan visi integrasi secara holistik.

Semua komponen bangsa hendaknya menanggalkan ego sektoral, syahwat politik komunal, dan kepentingan personal, golongan, atau partainya, dengan mengedepankan keutuhan dan kemasalahatan bangsa. Hal itu agar warga bangsa tidak mudah diadu domba, diprovokasi, dan dibenturkan.

Isra Mikraj menyerukan untuk mengembangkan visi integrasi dengan menomorsatukan tujuan dan kemaslahatan nasional. Visi integrasi dari Isra Mikraj harus menjadi komitmen ideologis para pemimpin bangsa kita agar NKRI tetap bersatu, bersaudara, damai, dan bersinergi demi masa depan bangsa yang berkemajuan, berdaulat, hebat, dan bermartabat.(*)

Sumber: http://mediaindonesia.com/read/detail/226897-seruan-persatuan-dalam-isra-mikraj

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *