Tujuanmu Tercapai, Selamat Jalan Opa Loper

0
165
Jefry Lauma

Oleh: Firman Toboleu

GM Harian Halmahera

 

OPA. Itulah sapaan saya saban hari padanya. Saat tiba di kantor dan akan memulai aktivitas. Lobi kantor jadi ruangan ‘kerjanya’. Menunggu koran setiap hari yang datang dari Ternate.

Dia selalu tiba pukul 10.00. Menumpang bentor dari rumahnya. Beralaskan pantofel hitam lusu, celana kain, kaos, dan dibalut jaket ungu andalannya. Tak lupa topi yang selalu menempel di kepalanya.

Jalannya rada pelan tapi pasti. Maklum usianya sudah senja. ‘Kepala tujuh’ umurnya.

“Selamat pagi, bos!” begitulah sapaannya kepada saya.

“Opa!” balas saya, singkat.

Saya memang tidak terlalu mengenal Opa. Saya mengenalnya baru sekira 3 tahun. Bertepatan saya diberikan kesempatan menempa ilmu manajemen di koran Radar Halmahera (Harian Halmahera, saat ini).

Durasi interaksi harian saya dengannya pun terbilang sangat singkat. Sekira 5 menit setiap hari. Hanya sesekali saya bercerita panjang lebar. Momen itu biasanya saat koran tibanya terlambat.

Saya ingat, saat masa perkenalan, awal saya masuk Januari 2017. Saat itu saya tidak tahu kalau Opa bagian dari tim pemasaran Radar Halmahera. Dan, jujur tidak terpikirkan. Karena di media lama saya, sudah tidak ada karyawan dengan usia uzur seperti Opa.

Kaget. Itulah kesan pertama saya. Ternyata masih ada orang se-umuran Opa yang mau kerja sebagai loper koran. Saya tambah kaget, ketika salah seorang karyawan mengatakan, “Opa tiap hari jualan koran jalan kaki.”

“He, masih kuat, Opa?” tanya saya.

“Masih, bos,” jawabnya.

Kami mulai bercerita. Dia lebih banyak. Menceritakan perjalanan hidupnya. Dari situ saya tahu, Opa Jefri, warga Tobelo kelahiran Bolaang Mongondow (Bolmong).

Nama lengkapnya Jeffry Lauma. Marga itu begitu saya kenal. Karena saya cukup lama ditugaskan di Bolmong. Warga Lauma mengakar di utara Bolmong.

Setelah dimekarkan menjadi dinamakan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Tepat berbatasan dengan Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut).

Namun, Opa hanya menghabiskan sepertiga masa hidupnya di tanah kelahiran. Dia kemudian pindah ke Tobelo dan melanjutkan sekolahnya di SMEA Gotong Royong tahun 1977.

Selepas sekolah, ternyata Opa menjadi wartawan di Surat Kabar Suara Maluku dengan wilayah tugas Maluku Utara.

“Saya lama jadi wartawan. 10 tahun di Suara Maluku,” kenangnya.

Ternyata itulah yang menjadi semangat dia, sehingga mau bergabung dengan Radar Halmahera pada 2016.

Orangnya memang pendiam. Hanya membicarakan sesuatu yang menurut dia penting dan berkaitan dengan pekerjaan. Kepada saya, dia sering menyarankan soal berita. Mana yang tidak disenangi pembaca dan mana yang tidak. Selain itu tidak ada.

Selama tiga tahun, selain kebiasaan menyapa dari kursi panjang di sudut lobi, membaca koran edisi lama menghabiskan waktu menunggu koran, Opa termasuk paling displin dalam kerja.

Saat tiba di kantor, dia akan langsung menuju ruangan bagian keuangan. Dia akan melaporkan hasil penjualan korannya hari kemarin. Setiap harinya.

Ada suatu masa, saya merasa perlu memberikan perhatian khusus. Pertimbangan saya, meminjamkan sepeda motor kantor untuk dipakai jualan setiap harinya. Sayang, Opa tidak tahu mengendarainya.

Dia pun meminta kalau bisa sepeda saja. Permintaan itu dia ajukan lewat manajer keuangan. Saat disampaikan, saya langsung menyetujuinya.

Kami memilih sepeda lipat. Berwarna hijau. Pertimbangannya, tidak kecil dan tidak besar. Juga ringan. Sesuai postur Opa. Dia begitu girang menerimanya. Hari itu juga langsung dibawa pulang dan keesokan harinya dipakai kerja.

Namun, sekira sebulan, sepeda itu terlihat di kantor. Berhari-hari. Saya bertanya kepada karyawan lain, “apakah ada yang rusak?”

“Tidak bos. Opa tidak ingin memakainya lagi,” jawab mereka.

“Kalau panas terik Opa bilang sering pusing. Sudah beberapa kali jatuh dari sepeda.”

Opa pun kembali dengan kebiasaan lamanya. Menjajakan koran dengan berjalan kaki mengitari pusat kota Tobelo. Masuk dari toko satu ke toko yang lain; warung satu ke warung yang lain. Sekolah, salon, kampus, hingga pasar tak luput darinya.

Hingga pada Sabtu, 1 Agustus 2020 kemarin. Saat kami sedang disibukkan kegiatan diskusi. Lewat Ketua Stikmah Tobelo dr Arend L Mapanawang, saya diberitahukan kalau Opa Loper—begitu dia disapa oleh pelanggannya, sudah meninggal dunia.

Saya tidak percaya. Saya meminta karyawan untuk mengecek. Namun, hingga keesokan harinya, tidak ada kabar. Saya berpikir mungkin opa yang lain. Barulah pada Senin, 3 Agustus 2020, saya mendapat kepastian. Benar Opa Jefri sudah meninggal.

Tidak ada yang tahu pukul berapa hembusan nafas terakhir Opa Jefri. Opa meninggal dunia saat tidur. Tidak ada kata terakhir, tidak ada pesan terakhir bagi ke tujuh anaknya; 21 cucunya; dan 7 cicitnya.

Benar bahwa sehari sebelum meninggal Opa sempat mengeluh sakit. Kami pun tidak mengizinkan Opa bekerja dan meminta dia pulang istirahat. Ternyata, itu menjadi pertemuan terakhir kami dengannya.

Opa meninggal dalam ketenangan. Opa pergi setelah tujuannya tercapai. Dia ingin menghabiskan karir hidupnya di koran. Sebagaimana dia mengawali karir hidupnya di koran.

Selamat jalan Opa Jefri. Maaf kami tidak berkesempatan mengantarmu di tempat peristirahatan terakhir. Namun, kecintaanmu pada koran akan terus menjadi semangat bagi kami di Harian Halmahera untuk berkarya dan menjadi jembatan ilmu bagi seluruh masyarakat di Kabupaten Halut.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here