Tom Hanks di Antara Inferno dan Korona

0
142
Civer Film Inferno

Oleh:
PURWANTO
(Jurnalis)

SUDAH banyak publik figur di belahan dunia yang mengidap Korona. Mulai dari pejabat negara, bintang olahraga, hingga kalangan selebriti dunia.

Namun, dari sederet tokoh-tokoh penting yang tertular Covid-19, nama aktor Tom Hanks yang lebih menarik untuk diangkat. Bukan karena  dia satu-satunya selebriti dunia pertama yang terjangkit virus yang muncul di Wuhan, Tiongkok itu.

Tapi, apa yang dialami aktor bernama lengkap Thomas Jeffrey “Tom” Hanks bersama sang istri, Rita Wilson itu, membawa ingatan kita pada petualangannya di sebuah film berjudul: Inferno.

Pasca aktor kawakan itu mengumumkan dirinya dan istri positif Korona, saya mencoba memutar kembali film yang diangkat dari sebuah novel karya Dan Brown dengan judul yang sama itu.

Film ber-genre thriller yang dirilis pada tahun 2016 itu menceritrakan, bagaimana Tom Hanks yang berperan sebagai Robert Langdon (ahli simbologi dan ikonologi dari Universitas Harvard), bersama badan kesehatan dunia WHO terlibat dalam upaya menyelematkan dunia dari ancaman virus mematikan ciptaan seorang ilmuwan modern, Bertrand Zobrist (Ben Foster) yang diberi nama Inferno.

Inferno sendiri diangkat Brown dari judul puisi karya sastrawan asal Italia Dante Alighieri (1265-1321) yang berarti neraka. Lewat mahakarya terhebat yang diciptakannya itu, Inferno bagi bapak bahasa Italia-julukan Dante-adalah tempat bagi mereka yang menolak nilai-nilai rohani, dan menggunakan kemampuan akal budinya untuk melakukan kejahatan kepada sesama manusia.

Di novelnya itu, Brown menggunakan ilustrasi dan gagasan Dante untuk memaparkan sistuasi manusia yang berantakan dan menuju kemusnahan layaknya seperti di neraka.

Seperti pada dua film yang dibintangi Tom Hanks sebelumnya, yakni The Davinci Code (2006) dan Angels and Demons (2009), di film yang disutradarai Ron Howard ini, dia melanjutkan petualanganya mengungkap pesan tersembunyi tentang keberadaan virus inferno yang dicari kekasih Zobrist, Sienna Brooks (Felicity Jones).

Untuk memecahkan teka-teki dari Dante yang disuguhkan Zobrits yang mati bunuh diri karena diburu kelompok yang punya kepentingan menjual virus itu, Langdon diperalat Brooks.

Akhir dari perjalanan puzzle itu menunjukan kalau virus yang dapat mengurangi populasi penduduk di belahan dunia itu berada Basilica Cistern, sebuah bangunan yang terdapat saluran air bawah tanah yang berada di Ibu Kota Turki, Istambul.

Walau di film berdurasi dua jam itu, Tom Hanks berhasil menggagalkan penyebaran Inferno yang akan dilakukan Brooks, namun sebaliknya, di dunia nyata, aktor Hollywood kelahiran 9 Juli 1956 ini justru terpapar virus. Bukan Inferno, namun Korona.

Meski begitu, Tom tetap tegar dan sabar. Dengan mengisolasikan diri, dia yakni bisa menghentikan penularan Covid-19 seperti kisahnya menyelamatkan dunia dari virus Inferno.

Tom dan para penderita Korona percaya, mereka bisa disembuhkan. Sebab fakta di lapangan menunjukan banyak penderita Korona di beberapa negara berhasil pulih setelah menjalani karantina.

Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel) misalnya. Dua negara yang memiliki penderita Covid-19 terbanyak berhasil menekan penularan virus tersebut. Buktinya, di Tiongkok saat ini hanya ada ada delapan kasus baru.

Sementara di Korsel yang dalam sehari ditemukan 500-an kasus, dengan mengisolasi seluruh warganya, negara tersebut berhasil memasuki fase stabil dengan hanya tersisa 110 kasus baru.

Pelan tapi pasti, itulah yang dilakukan dua pemimpin di negara tersebut yakni Xi Jinping dan Moon Jae-in. Tidak hanya didukung teknologi yang canggih, semua orang di dua negara itu juga bersatu memerangi korona.

Tidak ada panic buying besar-besaran, tidak ada hujat menghujat antara rakyat dengan pemerintah, semua bersatu bahu-membahu memerangi Covid-19.

Apa kuncinya ? kesadaran bersama pentingnya memproteksi diri. Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan, tetapi sering kali orang enggan untuk memanfaatkannya secara maksimal.

Kebiasaan ini oleh Abhijit Banerjee dan Esther Duflo, dua ekonom yang mendapatkan Nobel Ekonomi 2019 menyebutnya sebagai low hanging fruit theory.

Buah yang bergantung rendah, mudah dijangkau, namun sering kali kita enggan memetiknya dengan menganggap ”buah” tersebut berkualitas rendah dan tidak bernilai.

Misalnya, disaat kita sehat, kita jarang mencuci tangan dengan bersih. Kita juga sering kali menganggao remeh tanaman yang ada di sekitar, baik buah-buahan maupun daun-daunan yang oleh leluhur kita sudah dibuktikan memiliki khasiat untuk menangkal beragam penyakit.

Ingat!, sehat itu murah, tapi menjadi mahal ketika berubah menjadi sakit. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here