HalutMaluku UtaraTernateTidore Kepulauan

Selalu Berulah, 9 Pasien Covid Dipulangkan ke Daerah Asal

×

Selalu Berulah, 9 Pasien Covid Dipulangkan ke Daerah Asal

Sebarkan artikel ini
Potongan video yang memperlihatkan sejumlah pasien Covid-19 meninggalkan Grand Sahid Hotel Ternate

HARIANHALMAHERA.COM– Gugus tugas (gustu) percepatan penanganan Covid-19 Maluku Utara (Malut) rupanya sudah geram dengan sikap sembilan pasien yang tengah dikarantina di Grand Sahid Hotel Ternate.

Sebab, mereka sering membuat ulah mulai dari mengancam tenaga medis, main bola, berinteraksi dengan pasien lain hingga puncaknya berusaha kabur dari Hotel, Kamis (14/5) pagi .

Jubir gustu Covid-19 Malut dr Alwia Assagaf mengaku, pemulangan sembilan pasien yang “bandel” ini sudah disetujui Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) dr Idhar Sidi Umar.

“Yang akan dikembalikan 7 orang dari ternate didalamnya ada 3 orang positif ditambah 4 orang OTG. Kemudian Tidore Kepulauan satu OTG yang sering buat masalah dan Halut satu OTG,” tegasnya.

Apalagi, para pasien ini sejak awal mengaku sudah siap isolasi di rumah dan kembali ke masyarakat. “Mau terima atau tidak silahkan, masyarakat yang mengawasi” tegasnya.

Pihak gustu lanjut dia masih memberikan batas waktu kepada gustu Kota Tikep, Ternate dan Halut hingga Jumat hari ini untuk memberikan jawaban kesiapan terkait dengan pemulangan warganya itu.

“Dan mereka (gustus kabupaten/kota) harus jempat. Kita menyarankan agar karantina di lokasi karantina kabupaten/kota sehingga tidak dikembalikan ke rumah. Tadi pak kadis sudah tanda tangan untuk yang 9 orang ini mudah – mudahan bisa di eksekusi,” tegasnya.

Diantara sembilan pasien yang akan dipulangkan itu, termasuk pasien berinisial Z dari Kota Tikep dan pasien yang terekam bermain bola di depan ruang isolasi RSUD CB. “Untuk kota ternate terpaksa harus sebut nama biar masyarakat menilai karena bukan mereka saja yang puasa, kami juga puasa,” kesalnya.

Alwia menegaskan upaya yang dilakukan pihak gugus kepada para pasien yang dikarantina di Grand Sahid semata-mata memberikan yang terbaik dalam proses penyembuhan. “Kami semua juga punya resiko terpapar. Prasaan kami kepada mereka itu perasaan sayang sesama manusia, sesama saudara. Kami hanya minta pengertian dari mereka. Kalau mereka berdiam diri di kamar maka tidak perlu kami minta gakum.” Tukasnya. (lfa/pur)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *